Penulis: Muh Nur Sangadji / Akademisi Universitas Tadulako

Dit mois qq vous mangez et je vous dit qoui vous.  ” Bilang kepada ku, apa yang kamu makan dan  aku bilang, siapa kamu sebenarnya”. (Brillat Saverin, ahli gizi sekaligus ahli hukum berkebangsaan Perancis abad ke 17.)

Umrah kali ini mendadak sekali. Kepastian berangkatnya tinggal sehari. Di antara barang yang dikoporkan acak adalah tiga lempeng sagu yang terbuat dari ubi kayu. Ini dibedakan dengan nama asli sagu

(Metroxylon sagu Rottb) yg biasanya dibuat Popeda. Meskipun kedua jenis bahan baku ini bisa dibuat produk yang sama. Tepung ubi kayu bisa juga dibuat Popeda. Sementara, tepung dari pohon sagu, juga dapat dibuat sagu lempeng.  Saya niatkan untuk mencicipinya di depan Ka’bah ditemani air zam zam. Orang di tanah kelahiran ku menyebutnya “Hula Keta”. Itu bahasa Tidore.

Tapi, siapa yang sangka kalau ini adalah makanan yang dibuat secara modifikatif oleh Bangsa Eropa. Boleh juga dibilang Kuliner hibrid Eropa (Spanyol) dan Indonesia (Tidore). Kenapa bisa begitu..? Khabarnya, bangsa Eropa (Portugis dan Spanyol)  telah hadir di Maluku, persisnya Banda,  Ternate dan Tidore pada abad ke 15.  Satu ketika terjadi krisis pangan dahsyat. Orang lalu berusaha untuk berinovasi menciptakan pangan alternatif. Maka, terciptalah “Hula Keta” atau sagu yang terbuat dari ubi kayu (casava).

Ini adalah produk yang lahir dari kultur kuliner Eropa dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Memarut, merendam dan menapis. Ampas hasil tapisan sebagai rendemennya di-press dan diurai untuk dijemur. Jadilah tepung Tapioka yang kemudian dimasukkan dalam cetakan (dari tanah liat) dan dibakar dalam oven tradisional yang disebut forno. Penggunaan forno dalam bakaran itulah budaya Eropa saat membuat roti. Demikianlah sepenggal cerita sejarah yang pernah saya baca di jurnal ketahanan pangan yang ditulis oleh Daya Negeri Wijaya dari Universitas Negeri Malang tahun 2015.

Hasil cetakan, awalnya sangat lembek atau lembut. Orang di sana menyebutnya Hula Keta Lombo atau sagu lombo. Dapat langsung dimakan sebagai pengganti nasi. Dapat juga dijemur sampai kering. Sagu yg sudah kering ini  bisa disimpan tanpa pengawet. Lama awet berdurasi tahunan. Mungkin sama dengan “keju” di Eropa yang kian lama  makin dibanggakan.  Kualitasnya diukur dari berapa lama telah tersimpan.