Dengan begitu, maka cerita lanjut sang penceramah tentang posisi tegel sebagai analog kemuliaan, cukup menarik untuk dikaji. Tegel kata beliau, dibeli dari toko yang sama. Merek dan harganya pun sama. Tapi, sekelompoknya di tempatkan di dalam masjid. Sedangkan kelompok lainnya di tempatkan di toilet.
Keduanya punya posisi kemuliaan yang berbeda. Posisi tegel yang pertama selalu dicium ketika orang shalat. Sedangkan posisi di toilet bersentuhan dengan najis.
Namun dari sisi yang lain bisa berbeda. Barangkali, ada benarnya analogi ini. Tapi, bisa bermakna terbalik. Sebagai benda yang turut bertasbih Tegel adalah mahluk yang tidak meminta untuk ditempatkan di manapun. Dia mau saja ditempatkan di masjid atau di toilet. Di sisi ini, kita ungkap konsep kepasrahan alias kerelaan dan atau keikhlasan.
Dalam praktek kehidupan, ada banyak analogi tentang penempatan manusia. Contoh yang paling menarik sebagai pelajaran. Dapat ditelusuri dari cerita perjuangan Khalid bin Walid di era kepemimpinannya Umar bin Khattab. Khalid adalah penglima perang kaum muslimin yang perkasa dan gemilang memenangkan pertempuran.
Karena itu, Khalid dikagumi, dibanggakan dan dielu-elukan. Kuatir terjadi kemusrikan akibat kultus individu berlebihan. Maka, Khalid di “Non Job” alias diberhentikan dari posisi panglima perang, menjadi prajurit biasa. Orang-orang datangi Khalid sambil berkata. “Mengapa kamu masih tetap berjuang dengan semangat membara. Padahal, kamu sudah tidak menjadi panglima. Telah beralih menjadi prajurit biasa”.
Khalid memberikan jawaban yang menunjukan kemuliaan yang sangat luar biasa. Dia, bilang dalam pernyataan yang sangat tegas dan bermutu tinggi. “Saya berjuang untuk Islam. Bukan untuk Khalifah Umar bin Khattab”.
Sebuah jawaban profesional bernilai sangat agung dan mulia. Itulah, kepatuhan dan keikhlasan. Ditempatkan dengan alasan yang sama mulianya. Antara perekrut dan yang direktur. Maka, bertemulah profesionalisme, kepasitas dan keikhlasan. Sebuah prasyarat kemajuan peradaban yang sangat penting.
Mengamankan, peringatan Nabi yg sangat esensial. “Bila satu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, tunggu saja kehancuran”. Wallahu a’lam bi syawab. *