Di sejumlah kota, gerakan “Masjid Ramah Lingkungan” mulai digaungkan: penggunaan tumbler, pengelolaan sampah terpilah, hingga penanaman pohon sebagai bagian dari program sosial Ramadan. Ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk ibadah yang diperluas maknanya.

Puasa sejatinya melatih empati—kepada sesama manusia dan juga kepada alam. Saat kita merasakan lapar, kita belajar menghargai nikmat. Saat kita membatasi konsumsi, kita belajar bahwa bumi pun punya batas daya dukung.

Ramadan Hijau bukan konsep rumit. Ia dimulai dari pilihan sederhana: ambil secukupnya, kurangi plastiknya, hemat energinya. Karena takwa bukan hanya tentang hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab horizontal terhadap bumi yang kita pijak.

Jika Ramadan adalah madrasah, maka kelulusannya bukan hanya terlihat pada hati yang bersih, tetapi juga pada lingkungan yang lebih lestari. ***