Menurutnya, konflik yang terjadi di kawasan tersebut perlu dilihat dari sudut pandang kemanusiaan universal. Prinsip menjaga nyawa, kata dia, harus menjadi prioritas dibandingkan dengan menghilangkan nyawa.

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks tertentu, jihad dapat dimaknai sebagai upaya mempertahankan diri dari penindasan atau ancaman. Dalam kajian fiqh, hal ini dikenal sebagai jihad defensif, yakni upaya mempertahankan kehormatan diri, melindungi masyarakat, serta menjaga keamanan dan kedaulatan suatu wilayah dari agresi.

 “Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah, jihad defensif menjadi kewajiban ketika umat Islam diserang. Mempertahankan diri dari agresi merupakan bentuk keadilan dan bertujuan menghentikan penindasan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa konsep tersebut menunjukkan bahwa dalam syariat Islam, perang bukanlah tujuan utama, melainkan langkah terakhir untuk mempertahankan keadilan dan keamanan. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Abd. Mufarik juga menyinggung konflik yang terjadi di wilayah Gaza Strip dan Palestina yang saat ini menjadi perhatian dunia. Ia mengajak mahasiswa untuk menyikapi konflik tersebut secara kritis, proporsional, dan tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari komunitas intelektual memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk merespons berbagai isu global dengan pendekatan ilmiah dan rasional. “Sikap mahasiswa tidak hanya didasarkan pada emosi, tetapi juga harus berlandaskan pengetahuan, etika, dan analisis ilmiah,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik internasional seringkali diiringi dengan framing media serta propaganda dari berbagai pihak. Oleh karena itu, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan literasi media agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Mahasiswa, lanjutnya, perlu membiasakan diri untuk memverifikasi informasi, membandingkan berbagai sumber media, serta memahami konteks sejarah dan politik dari suatu konflik sebelum mengambil kesimpulan. “Kemampuan literasi media sangat penting agar kita tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyederhanakan konflik yang sebenarnya sangat kompleks,” tegasnya.

Melalui kegiatan kajian Ramadan ini, panitia berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai konsep jihad dalam Islam, sekaligus mampu menyikapi dinamika konflik global dengan perspektif yang lebih objektif, kritis, dan berlandaskan nilai kemanusiaan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara pemateri dan peserta kajian yang berlangsung hangat. Setelah sesi diskusi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. ENG