Oleh: Eka Rezky WR
(Aktivis Dakwah Kampus)
Bagi seorang mukmin, bulan Ramadan pasti sangat ditunggu. Kerinduan, begitu mendalam meski baru menyebut namanya. Bukan hanya karena suasananya yang begitu berbeda, tetapi karena Allah Swt. telah menyematkan berbagai keistimewaan yang tiada tara. Pada bulan ini, Allah Swt. menjanjikan pintu ampunan terbuka lebar. Sementara itu, pahala kebaikan mengalir deras tanpa ada hitungan. Jika dengan ibadah puasa seseorang berhasil sampai pada derajat takwa, Allah pun memastikan keberkahan di dunia dan akhirat akan dia dapatkan. Maka berpuasa di bulan Ramadan tidak boleh dimaknai hanya sekedar aktivitas tahunan belaka tapi disadari untuk mewujudkan taqwa.
Mewujudkan Takwa
Hikmah besar yang akan diraih oleh orang-orang yang melaksanakan saum Ramadan atas dasar keimanan adalah memperoleh derajat takwa (lihat: QS Al-Baqarah [2]: 183). Hikmah besar yang akan diraih oleh orang-orang yang melaksanakan saum Ramadan atas dasar keimanan adalah memperoleh derajat takwa (lihat: QS Al-Baqarah [2]: 183).
Banyak definisi takwa yang sudah disebutkan oleh para ulama. Di antaranya adalah bahwa dalam kata takwa mengandung makna: Pertama, al-khawf min al-Jalil; rasa takut yang besar terhadap kemahakuasaan Allah. Orang yang saum dilatih kesadarannya akan sifat-sifat Allah dan diuji konsistensinya dalam ketaatannya terhadap aturan Allah Swt.. Ia akan menjaga hal-hal yang bisa membatalkan saumnya. Diapun tidak berani makan dan minum sekalipun azan magrib tinggal beberapa detik lagi. Mengapa? Karena ia sadar bahwa hal tersebut bisa membatalkan saumnya dan ia juga yakin bahwa Allah Maha Melihat apapun yang dilakukan hamba-Nya.
Kedua, al-‘amal bi at-tanzil; melaksanakan ketentuan hukum yang tertera dalam wahyu Allah yang telah diturunkan baik yang ada dalam Al-Qur’an maupun yang terdapat dalam hadis Rasulullah saw..
Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an (lihat: QS Al-Baqarah [2]: 185). Firman Allah Swt. dalam ayat ini jelas sekali menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk. Karena itu, bulan ini merupakan momen yang tepat untuk membaca, mempelajari, mendalami kandungannya, melaksanakan seruannya, serta mengajarkan dan mendakwahkannya. Dengan begitu fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia betul-betul terealisasi dalam kehidupan nyata dan tidak berhenti pada tataran pengetahuan.
Pada bulan ini, kita dididik untuk senantiasa berpegang pada syariat Allah Swt.. Saum, salat fardu, salat tarawih, infak dan zakat, serta amal-amal lainnya senantiasa akan disesuaikan dengan aturan-Nya agara amalan tersebut diterima Allah dan mendapat balasan pahala. Pasca-Ramadan keterikatan pada Al-Qur’an dan sunah harus terus dipelihara.
Ketiga, al-isti’dad li ar-rahil; persiapan untuk menghadapi timbangan amal pada Hari Kiamat. Orang yang bertakwa seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia akan kembali kepada Allah Swt. untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya di dunia. Berikutnya, ia akan senantiasa menjaga perbuatannya agar sesuai dengan syariat-Nya, berusaha tidak melakukan maksiat sekecil apapun, dan tidak akan melalaikan kewajiban seberat apapun.
Kekuatan Ramadan, Kekuatan Ruhiah
Bukan kisah isapan jempol belaka bahwa Ramadan kental dengan berbagai kisah heroik pada masa Rasulullah ﷺ. Yang paling terkenal adalah peristiwa perang Badar, terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 H. Perang melawan kaum Quraisy ini berhasil dimenangkan oleh umat Islam, padahal hanya melibatkan 314 pasukan umat Islam. Sementara itu, pasukan kaum Quraisy berjumlah lebih dari seribu orang. Mereka dilengkapi 600 persenjataan lengkap, 700 unta, serta 300 kuda.
Allah Taala berfirman terkait perang ini, “Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu mensyukuri-Nya.” (QS Ali Imran: 123).
Selain Perang Badar al-Kubro, penaklukan Kota Makkah alias fathul Makkah juga terjadi pada 20 Ramadan tahun ke-8 H. Kedatangan Rasulullah saw. ke Kota Makkah bersama puluhan ribu pasukan untuk menyucikan kota Makkah dari kesyirikan dan budaya pagan yang menyembah berhala-berhala di sekitar Ka’bah.
Ada juga Perang Ain Jalut pada 15 Ramadan 685 H. Pasukan kaum muslim bersama para ulama di bawah pimpinan Sultan Qutuz dari Dinasti Mamluk Mesir berhasil mengalahkan pasukan Mongol yang dikenal bengis, yang tengah menguasai Palestina.
Meski sedang menjalankan ibadah puasa, umat Islam pantang mundur di medan perang. Kekuatannya bukan kaleng-kaleng alias enggak sembarangan. Pastinya, sumber kekuatan itu bukan karena dorongan harta rampasan perang atau dendam kesumat. Akan tetapi, murni karena Allah Swt. demi menjemput pahala syahid dan kemuliaan kaum muslim.
Ramadan menjadi bulan panen pahala, bulan yang mana kita bisa berinvestasi sebesar-besarnya bagi kebahagiaan akhirat dengan meningkatkan amal-amal saleh.
Amal saleh yang dimaksud bukan sekadar salat atau tilawah Al-Qur’an (sebagaimana yang dipahami oleh sebagian masyarakat kita), melainkan ternyata banyak bentuknya. Kadang kita rancu dalam menempatkan prioritas amal, mendahulukan yang sunah daripada yang wajib, atau kadang bingung memilih antara yang sama-sama wajib atau sama-sama sunah.
Lantas, bagaimanakah kita bisa mengatur prioritas dan berusaha mendapatkan pahala sebanyak mungkin dari Ramadan?
Beramal Semata karena Allah
Pertama, kita harus menanamkan pada diri kita bahwa paradigma beramal adalah semata karena Allah. Apa pun yang kita lakukan, kita niatkan untuk mendapat rida-Nya. Hal yang Allah ridai bukan sekadar banyaknya amal, melainkan amal yang ahsan.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 2, “Dialah (Tuhan) yang menjadikan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun.”
Ahsanul-amal adalah amal yang dilakukan semata karena Allah dan sesuai dengan ketentuan syariat. Inilah amal yang Allah terima dan harus kita jaga agar amal kita selalu berada dalam koridor ini. Ikhlas dan sesuai syariat. Besar atau kecil, sulit atau mudah, semua akan Allah perhitungkan selama memenuhi ketentuan ini.
Allah berfirman dalam QS Al-Zalzalah ayat 7—8, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.”
Mengoptimalkan yang Fardu
Perkara-perkara fardu adalah perkara yang Allah wajibkan atas kaum muslim. Di samping puasa, kita perlu membenahi salat lima waktu yang difardukan. Oleh sebab itu, menunaikan salah dengan khusyuk, memperpanjang bacaan surah, memperpanjang rukuk dan sujud, perlu kita upayakan untuk mendapatkan pahala yang sempurna.
Bagi perempuan, amal fardu yang perlu diperhatikan juga adalah kedudukannya sebagai anak bagi yang belum menikah, juga sebagai istri dan ibu bagi yang sudah menikah. Ramadan menjadi momen yang tepat bagi kita untuk memperbaiki kualitas bakti kita pada orang tua atau suami. Begitu pula para ibu, hendaknya mengoptimalkan upaya pengasuhan dan pendidikan anak-anak, misalnya dengan mengajarkan anak berpuasa, salat, mengaji, menanamkan akidah, dan membangkitkan semangat dakwah mereka.
Ibadah fardu juga mencakup penunaian zakat bagi yang mampu. Menunaikan zakat saat Ramadan akan melipatgandakan pahala yang kita dapat dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Menuntut ilmu juga merupakan hal yang difardukan dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah dari Anas ra.).
Menuntut ilmu—terutama ilmu agama—bisa menjadi sarana mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah. Dalam hal ilmu agama, sungguh sangat luas cakupannya, mulai dari akidah, fikih, akhlak, hingga sistem sosial, politik, dan pemerintahan. Bahkan, mempelajari ilmu politik dan pemerintahan Islam sangat urgen pada masa sekarang dalam rangka mengupayakan penerapan ajaran Islam secara kafah.
Selain itu, amal fardu yang tidak boleh kita abaikan adalah amar makruf nahi mungkar dan dakwah. Di tengah kondisi umat yang terus digempur pemikiran-pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam, dakwah menjadi aktivitas yang harus diemban oleh setiap muslim agar kemurnian dan kemuliaan Islam terus terjaga. Insyaallah, dakwah dalam rangka menegakkan agama Allah saat Ramadan akan menjadi sebuah perjuangan dengan pahala yang besar di sisi-Nya.
Memperbanyak Amalan Sunah
Dengan pahala berlipat ganda yang Allah janjikan, hanya mencukupkan dengan amal fardu rasanya sungguh rugi. Jadi, peluang panen pahala ini mesti kita manfaatkan sebaik-baiknya sehingga amalan-amalan sunah kita perbanyak semampu yang bisa kita kerjakan.
Ibadah sunah saat Ramadan yang diutamakan adalah qiyamur-ramadan atau yang lebih kita kenal dengan Tarawih, juga tadarus Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadan dilandasi keimanan dan dalam rangka mencari rida Allah, maka diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, dan Tirmidzi).
“Seutama-utama ibadah umatku adalah membaca Al Qur’an.” (HR Al Baihaqi).
Sekalipun demikian, masih banyak amalan sunah lain yang dapat kita kerjakan saat Ramadan, seperti berzikir, memperbanyak doa, mempelajari tafsir dan kandungan Al-Qur’an; serta mengkaji tsaqafah-tsaqafah Islam, seperti fikih, hadis, dan sebagainya.
Begitu pula ada amalan-amalan sunah yang berkaitan dengan orang lain. Misalnya, Rasulullah ﷺ menjanjikan pahala besar bagi orang yang memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, memerintahkan untuk memperbanyak sedekah, meringankan beban orang lain, menyambungkan tali silaturahmi, menyantuni anak yatim dan orang miskin, serta memperbagus akhlak dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan keji.
Insyaallah, dengan langkah-langkah ini, kita mampu mewujudkan Ramadan terbaik setiap tahunnya, juga tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya.
Semua tentu dengan disertai doa agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan, keteguhan, dan kekuatan selama Ramadan. Kita pun harus selalu bertawakal pada Allah. Semoga Allah menjadikan Ramadan kita tahun ini Ramadan terbaik yang pernah kita lalui. ***