Teringat tahun 2004, ketika saya ditegur keras oleh sahabat Jepang ku, Ria Yamada. Beliau guide kami selama training di Jepang. Saya ditegur karena datang terlambat beberapa menit, lantaran harus ambil uang lebih dahulu. Semua orang telah menunggu untuk menuju ke stasiun Metro, kereta api bawah tanah.
Dengan setengah marah, Ria Yamada bilang pake bahasa Indonesia dialek Jepang. Saudara Nur Sangadji, anda sekarang sedang berada di Jepang, bukan Indonesia. Dia lanjut mengomel, tapi sudah pake bahasa Inggris ; In japan, if you are late 10 minute, you already kill half people of Japan. Karena bersalah, saya menunduk terus sambil beri alasan sekuatnya sambil meminta maaf.
Saya kira sudah selesai. Ternyata Ria melanjutkan, masih dalam bahasa Inggris. “You know, I have been living in Indonesia for some years. And I know well, one of the bad character of most Indonesian people’s is diligent to produce the reason”. (Kamu tahu kata Ria, saya pernah tinggal beberapa tahun di Indonesia. Saya tahu benar, salah satu karakter buruknya orang Indonesia. Yaitu, sangat cerdas sekali memproduksi Alasan ).
Ria mengucapkan itu di hadapan lebih kurang 20 an kawan-kawan dari seluruh Indonesia. Ucapan itu menjadi pelajaran yang sangat agung bagi ku. Semenjak itu, saya sangat takut datang terlambat. Tapi, pagi ini saya terlambat lagi. Terlambat bangun sahur. Dan, Pak Laode mengirimkan cerita tentang kereta jepang berkecepatan tinggi (Shinkansen).
Sejak di Stasiun kereta api tahun 2004 itu hingga kini, masih terus terngiang perkataan Ria Yamada. 10 menit terlambat, telah membunuh setengah orang Jepang. Kecepatan kereta jepang Itu, sekitar 300 SD 400 km/jam atau setara setengah dari kecepatan pesawat terbang. Kereta kita punya kecepatan sekitar 150 an km/jam. Tapi, tabrakan sering terjadi.
Maka, benarlah 10 menit terlambat akan membunuh setengah orang Jepang dalam kultur modern yang serba teknologi otomatis. Jepang memang hebat. Tapi, sejarah juga mencatat. Bung Hatta pernah menolak satu Opsir Jepang yang datang terlambat 10 menit. Bung Hatta bilang begini kala itu ; I can not receive you, because you are 10 minuate too late. Berharap, disiplin waktu ini terus menjadi pelajaran. Dan, puasa itu memperkokohnya. Semoga. ***