Allah swt berfirman:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ۝١

Terjemahanya:

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (Al-A’raf ayat 172)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia telah diambil kesaksiannya sebelum manusia diciptakan. fitrah manusia adalah memiliki potensi ketaatan namun saat yang sama ada potensi keburukan yang dipengaruhi oleh kesalahan atau dosa.

Jika manusia tergelincir melakukan kesalahan dan dosa, maka ada banyak fasilitas dari Allah swt yang dapat mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Yaitu ketaatan yang hakiki (ketaatan kepada Allah swt) diantara fasilitas yang dapat mengembalikan manusia saat kondisi jiwa dan diri sedang rapuh kepada fitahnya adalah dengan zikir atau mengucapkan istigfar saat itu juga, segera bertaubat dengan penyesalan yang sungguh-sungguh, kemudian melakukan amal kebaikan yang ditambahkan dari biasanya dan berdoa kepada zat yang membolak balikan hati dan ketetapanNya berlaku.

Itulah cara agar saat jiwa rapuh kita segera Kembali kepada fitrah sebagai manusia. Sampai hati menjadi tenang, tentram dan bersemangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya. ***