OLEH: Dr. Rizal M.Pd
(Sekretaris DPW PKS Sulteng)
Sebuah sunatullah jika seseorang mengalami pasang surutnya kehidupan, sebagaimana kondisi internal setiap individu memiliki sifat berbolak balik, yaitu Qalbu. Allah swt berfirman:
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ٥
Terjemahannya:
Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Anfal; 153)
Dalam ayat tersebut memberikan Gambaran bahwa Allah swt berkuasa membuat kebimbangan/perubahan pada hati. Dalam hadits Riwayat Tirmizi dan Ahmad disebutkan bahwa “sungguh hati itu berada di dua jari dari jari jari tuhan. Dialah yang membolak balikannya” juga hadits Riwayat Tirmizi no hadits 2140 disebutkan bahwa Rasulullah saw. Berdoa “Allāhumma yā muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”
Berdasarkan ayat dan hadits tersebut kita memahami bahwa karakter hati itu berbolak balik, maka yang terpenting bagi manusia adalah ikhtiar menjaga konsistensi hati agar tetap dalam kebaikan. Jika saja tergelincir maka segera Kembali kepada fitrah hati.