Oleh: dr. Sakinatul Qulub

(Dokter umum di RSUD Undata)

Beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan, saya sempat berkunjung ke Jakarta, salah satu kota paling sibuk, mungkin se-Indonesia. Pertama kalinya saya mencoba transportasi umum berupa MRT (mass rapid transit). Disitulah saya melihat beragamnya manusia yang ikut merasakan layanan ini, mulai dari kalangan tua hingga ibu hamil.

Satu hal yang cukup menggelitik akal, ketika salah satu penumpangnya dengan tidak sengaja menginjak kaki penumpang lainnya, dan muncul celetukan “hati-hati ya! lain kali jangan di ulangi!” terdengar biasa saja, hanya saja diucapkan di tempat yang lumayan padat dan tak ada yang berbicara sedikitpun, membuat saya ikut simpati, seberat apakah hari yang ia lalui? Kemacetan apa yang ia rasakan semenjak pagi hingga malam ? atau kegelisahan apa yang ia rasakan setelah seharian bekerja?

Secara global, kasus baru gangguan kecemasan pada remaja dan dewasa muda (10-24 tahun) meningkat 52% antara 1990-2021, dengan peningkatan tertinggi pada kelompok usia 20-24 tahun.  Survei I-NAMHS (2022) mengungkapkan 34,9% atau 15,5 juta remaja Indonesia (usia 10-17 tahun) mengalami masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 (sekitar 2,45 juta) memiliki gangguan mental, dengan kecemasan sebagai salah satu keluhan utama.  Dalam lima tahun terakhir, Sulawesi Tengah sempat tercatat memiliki prevalensi gangguan kecemasan dan depresi tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 19,8%. Salah satu studi menyebutkan angka kasus kecemasan di Kota Palu mencapai 232 jiwa, yang seringkali berkaitan dengan paparan media sosial terkait situasi darurat.

Fenomena doom spending (belanja secara impulsif sebagai pelarian dari stres termasuk stres ekonomi hingga ketidakpastian masa depan), hingga fenomena “sibuk tapi kosong” menghinggapi semua kalangan, dari generasi boomers yang disibukkan FB pro hingga gen Z bahkan gen Alpha yang disibukkan dengan media sosial yang ada didalam gadgetnya.

Ketergantungan akan kecepatan informasi media hari ini, perasaan FOMO-tidak ingin tertinggal, membuat sebagian orang tidak memiliki waktu untuk sekedar saling sapa, melepas gadgetnya, atau bahkan sekedar berbincang eye to eye tanpa media elektronik yang melekat pada dirinya.