Taqwa adalah pilar dan basis kekuatan yang paling berharga. Dalam diskursus tema-tema character building atau pun dalam konstruksi wacana pembangunan manusia seutuhnya, maka integritas dan produktivitas menjadi bagian tak terpisah didalamnya. Berbagai kalangan dan pemangku kepentingan meramu rumuskan konsep dan regulasi guna mewujudkan SDM yang produktif dan berintegritas. Reword dan punishment seringkali digalakkan guna mewujudkan itu. Namun tak sedikit yang berakhir menjadi project profan dan personal branding atau CCM (cari-cari muka).

Tak dapat dipungkiri bahwa basis integritas dan produktivitas yang paling otentik adalah taqwa. Kemenangan umat islam dalam peristiwa perang badar yang dalam kacamata empirik itu mustahil, resepnya adalah taqwa. Pun sebaliknya, kekalahan umat islam di perang uhud nyata karena integritas semu yang tak disanggah taqwa. Keberanian dan komitmen tinggi yang dimiliki oleh Bilal, Abu Dzar, Ali Bin Abi Thalib, dll karena diilhami taqwa.

Puasa layak dan patut didorong sebagai medium retret yang diproyeksikan memompa energi dan produktivitas kita. Puasa juga dapat menjadi kawah yang mampu menanamkan integritas. Tentu puasa yang dimaksud tak berhenti dalam makna ritual semata, tapi juga harus menjelma sebagai madrasah jiwa yang melahirkan pribadi-pribadi taqwa.

Wallahu a’lam bishshawab.