Oleh: St.Naisyah, S.Pd.I, M.Pd

(Sekretaris AGPAII Kabupaten Tolitoli)

Taqwa merupakan diksi terminologis yang sangat popular. Secara umum istilah taqwa dikait eratkan dengan dimensi-dimensi kesadaran kemanusiaan yang bersifat imanen-transenden. Dalam kitab suci Al-Qur’an kata taqwa beserta derivasinya disebut sebanyak 258 kali. Salah satunya adalah dalam surah al-baqarah ayat 183, yang secara terang menjelaskan keharusan puasa guna mewujudkan pribadi taqwa.

Artinya, lewat ayat tersebut kita dapat memahami bahwa puasa menjadi salah satu wasilah (jalan yang tepat) menggapai taqwa. Imam Al-Ghazali merumuskan makna taqwa dalam 3 makna utama yaitu: takut dan segan kepada Allah, ketaatan dan ibadah serta mensucikan hati dari dosa. Pada hakikatnya dalam pandangannya taqwa adalah kepatuhan total lahir batin kepada Allah. Pandangan tersebut sejalan dengan esensi puasa sebagai ibadah yang menuntut daya juang lahir batin manusia.

Puasa; Diklat Bersertifikasi Taqwa

Puasa sebagai medium pendidikan dan latihan berstandar kualifikasi tinggi, tidak  hanya semata bisa difahami sebagai titah doktrinal wahyu. Secara empirik, dalam spektrum filsafat ilmu maupun dalam kajian saintifik puasa dapat ditemu kenali sebagai realitas  pengejawantahan nilai yang high quality. Penggabungan apik antara dimensi elitis-elementer. Secara nyata kita dapat melihat bagaimana puasa menjadi proyek rill pembangunan mental psikhis, lewat tangga-tangga edukasi manajerial fisik. Kita bertahan (sabar) tidak makan, minum dan kesenangan-kesenangan lainnya bukan semata karena kita tak punya, tapi sedang mengelola ego yang kita yakini akan bermuara pada kenaikan derajat kedewasaan insani hingga pada capaian  bertaraf tinggi (taqwa).

Menurut Sigmund freud (psikoanalisis) bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia seyogyanya berkembang. Semakin dewasa, semakin abstrak kebutuhannya. Saat kanak-kanak manusia dilingkupi dengan kebutuhan yang bersifat fisik. Artinya memenuhi dimensi sudah cukup untuk menggembirakannya. Ketambahan usia seharusnya beriring dengan kematangan dan kedewasaan mental jiwa. Dan dalam posisi itu idealnya manusia semakin abstrak kebutuhannya, seperti kehausan pada ilmu, kebahagiaan berbagi dan lain-lain.

Masalahnya, sekarang fenomena fiksasi; hambatan perkembangan kedewasaan cukup menggejala dalam wujud konversi yang bersifat simbolik. jika dulu identitas manusia kanak-kanak terwujud sebagai bocah yang sangat bahagia kalau memperoleh makanan, minuman atau mainan yang banyak. Maka manusia modern, pada hakikatnya banyak tak beranjak, tetap dalam bekap mental kanak-kanak. Hanya mengkonversinya dengan identitas yang substansinya sama; hegemoni, oligarki dan kapitalisasi.

Jika freud menyebut itu sebagai orang yang sakit jiwa dan atau terhambat perkembangan kepribadiannya, maka tentu kita dapat memastikan itu terjadi bukan karna tak tersentuh dengan jamahan sekolah.  Yang ada adalah sekolah kurang mumpuni mengkatalis perkembangan kepribadiannya.

Satu medium yang bisa melantakkan fenomena fiksasi adalah puasa. Puasa bukan sekedar retret tapi diklat berkualifikasi Ilahiyah. Selama puasa dijalankan sebagaimana mestinya, maka garansinya adalah seluruh peserta dan alumnusnya berhak menerima sertifikat taqwa ( sebuah kualifikasi kelulusan melampaui predikat Summa Cum Laude  atau Honoris causa.

Integritas dan Produktivitas Berbasis Taqwa