SULTENG RAYA – Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Tengah melalui Majelis PAUD, Dasar, dan Menengah menggelar workshop bertajuk “Dari Label ke Kompetensi: Transformasi Paradigma Pendidikan Anak Inklusi” di salah satu hotel di Kota Palu, Sabtu (24/1/2026).
Untuk diketahui, kegiatan ini adalah program dari Devisi SDM Majelis Pauddasmen oleh Tirta Ayu Paramitha yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah dalam menangani anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah inklusi.
“Ini menjadi ruang refleksi. Diharapkan guru dan pengelola satuan pendidikan Aisyiyah mampu mengintegrasikan nilai nilai Al Islam dan kemuhammadiyahan dalan praktik pendidikan inklusif, sehingga sekolah sekolah Aisyiyah benar benar menjadi ruang yang aman, ramah anak dan membebaskan potensi peserta didik secara holistik, baik intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual,” demikian dikatakan Ketua Majelis Pauddasmen PWA Sulteng, Herlina Yusuf.
Selanjutnya, Workshop menitikberatkan pada pendekatan pendidikan berbasis psikologi guna mengubah cara pandang guru dari sekadar pemberian label terhadap anak, menuju penggalian potensi dan kompetensi yang dimiliki setiap peserta didik.
Workshop kemudian menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang psikologi anak, yakni Founder Yayasan Cahaya Nurani, Dra. Vita Brina Damayanti, Psikolog, serta Psikolog Klinis Rini Junita Bakri Hasanudin, M.Psi.
Keduanya memaparkan materi terkait karakteristik anak berkebutuhan khusus, pendekatan psikologis dalam proses pembelajaran, serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Tengah, Dr. Hj. Nadiatulhuda Mangun, S.E., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan kompetensi guru menjadi kebutuhan mendesak seiring dengan penerapan kebijakan sekolah inklusi oleh pemerintah.
Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menempuh pendidikan di sekolah umum. Namun, hal itu harus diimbangi dengan kesiapan guru dalam memahami karakter, kebutuhan, serta potensi anak.
“Ini bagaimana guru-guru kita diberikan bekal agar memiliki kompetensi dalam penanganan anak-anak berkebutuhan khusus. Selama ini dalam program sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus bisa bersekolah di sekolah umum. Karena itu, guru harus dibekali pendidikan yang memadai agar mampu menangani mereka dengan tepat,” ujar Nadiatulhuda.
Ia menegaskan, paradigma pendidikan inklusi tidak boleh berhenti pada pemberian label semata, melainkan harus berorientasi pada penggalian potensi anak secara menyeluruh.
“Tema kegiatan ini menekankan agar kita tidak hanya memberi label, tetapi bagaimana menggali potensi anak. Materi berbasis psikologi sangat penting agar guru memiliki pengalaman dan keterampilan dalam menangani anak berkebutuhan khusus,” tambahnya.
Nadiatulhuda juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun sistem pendidikan PAUD Aisyiyah yang lebih ramah, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Evi Oktavia, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada PWA Aisyiyah Sulawesi Tengah atas inisiatif penyelenggaraan workshop tersebut.
Ia menilai kegiatan ini selaras dengan visi dan program Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam mendorong penguatan pendidikan inklusi di daerah.
“Kita memang harus melihat anak inklusi dari potensi, bukan hanya dari label. Kegiatan seperti ini sangat tepat untuk menambah pengetahuan dan keterampilan guru dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Evi.
Menurutnya, penanganan yang tepat oleh guru akan membantu mengidentifikasi serta mengembangkan potensi anak secara optimal. Selain kompetensi guru, Evi juga menekankan pentingnya dukungan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
“Guru harus tepat dalam penanganannya. Kalau penanganannya tepat, kita bisa menilai potensi anak dengan baik. Tentu ini juga harus ditunjang dengan sarana dan prasarana, serta kolaborasi yang baik antara guru dan orang tua,” jelasnya.
Melalui workshop ini, para guru PAUD Aisyiyah diharapkan mampu menerapkan pendekatan pendidikan inklusi berbasis psikologi di lingkungan sekolah masing-masing, sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus secara optimal. RHT