Vale juga mencatat kemajuan signifikan dari ekspansi kegiatan komersial. Penjualan bijih nikel saprolit dari wilayah Pomalaa dan Bahodopi mencapai 1.905.740 wet metric ton (wmt) hingga November 2025. Meski demikian, Bernardus mengakui perusahaan masih menghadapi tekanan dari pelemahan harga nikel sepanjang 2025. Menurut dia, realisasi harga nikel berada di bawah ekspektasi awal perusahaan.
Sebelumnya, hingga September 2025, Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 705 juta atau sekitar Rp 11,6 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan nikel matte sebesar US$ 661,8 juta dan bijih nikel US$ 43,4 juta. Pada periode yang sama, laba bersih perusahaan tercatat US$ 52,4 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga akhir kuartal III 2025, total aset Vale mencapai US$3,2 miliar. Ekuitas perseroan tercatat US$2,7 miliar dengan liabilitas sebesar US$491,1 juta.
Di sisi pengembangan usaha, Vale mengungkapkan minat Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk berinvestasi pada tiga proyek fasilitas pengolahan nikel milik perseroan. Proyek tersebut berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Sambalagi, Morowali, Sulawesi Tengah; dan Sorowako, Sulawesi Selatan. RHT