Meski keduanya berada pada kutub pemikiran yang berseberangan dalam hal ini, tidak pernah ada catatan sejarah yang menyebutkan mereka saling menjatuhkan atau bertengkar. “Mereka menguasai ilmu secara mendalam, sehingga memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi sampai memutus silaturahmi,” ulas Prof. Zainal.
Lebih jauh, Prof. Zainal membedah alasan mengapa saat ini banyak orang justru mudah tersulut emosi dalam perkara agama. Ia menilai, mereka yang gemar bertengkar cenderung hanya ingin pendapatnya diikuti dan diakui sebagai kebenaran tunggal.
Kondisi ini terjadi karena minimnya penguasaan ilmu. Seseorang yang dangkal ilmunya akan merasa “terancam” oleh perbedaan, sehingga ia cenderung mengumbar pendapat secara subjektif sesuai egonya masing-masing.
“Agama tidak mengajarkan pertengkaran. Jika ada yang bertengkar, maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya. Sebab, ilmuwan agama yang sesungguhnya akan selalu membawa keteduhan, bukan kegaduhan,” tambahnya.
Narasi yang dibangun Prof. Zainal ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat di era informasi saat ini. Ketua FKUB Provinsi Sulteng itu menekankan bahwa semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin lapang pula dadanya dalam menerima keberagaman sudut pandang.AMR