ITB aktif bermitra dengan pemerintah daerah dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, seperti program air bersih di wilayah timur Indonesia serta fokus kebencanaan. ‘’Di Sulawesi Tengah banyak potensi terkait perikanan, sumber daya alam, dan pengembangan ekonomi. Kami bersedia berkontribusi sesuai keilmuan kami,’’ kata Tatacipta.
Ia juga menyoroti pendampingan tata ruang terkait kerentanan bencana, serta menyarankan kerja sama tidak terbatas pada kelas khusus, melainkan melibatkan berbagai disiplin seperti Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan program S2 profesional serta pengembangan kapasitas guru.
Ditempat yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, menyatakan kesiapan menerima calon mahasiswa Sulteng, termasuk melalui program seleksi siswa unggul yang akan digelar April 2026.
Ia menyebut program metalurgi internasional ITB bekerja sama dengan mitra Australia dan kolaborasi dengan industri di Morowali serta Dekan Teknik Universitas Tadulako.
Ketua Satgas PKA mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid sebagai “berkah” karena memberikan akses kuliah gratis bagi warga Sulteng. Ia juga menyoroti dampak negatif industri ekstraktif terhadap lingkungan dan potensi teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar untuk daerah sulit air seperti Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.
Kepala BRIDA Sulteng, Sandra Tobondo berharap pertemuan ini ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov Sulteng dan ITB. Ia menyebut koordinasi dengan BRIN nasional terkait pengembangan industri, pangan dan kebencanaan serta potensi sinkronisasi Pusat Agraria ITB dengan program penyelesaian konflik agraria provinsi, yang dapat dikoordinasikan dengan mitra seperti JICA.
Rekomendasi hasil pertemuan menyatakan kerja sama akan segera ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Pendidikan Sulteng dan BAPPEDA Sulteng dalam waktu dekat. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi strategis untuk kemajuan pendidikan, riset, dan pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Tengah. *WAN