Pertandingan sempat terhenti di pertengahan babak kedua setelah insiden benturan keras terjadi di depan gawang Banteng Olaya. Penyerang Berlian, Moh. Radit, yang menyambut umpan dari Moh. Rifal di sisi kiri, berbenturan dengan kiper Banteng dan terkapar tak sadarkan diri. Kepanikan sempat menyelimuti lapangan. Tim medis bersama para pemain kedua tim segera memberikan pertolongan.
Radit kemudian dilarikan ke RS Anuntaloko Parigi menggunakan mobil patroli Polsek Parigi. Dari pantauan di IGD, pemain tersebut akhirnya siuman dan mendapat penanganan medis lebih lanjut. Insiden ini membuat pertandingan terhenti sekitar 10 menit sebelum kembali dilanjutkan. Hingga peluit panjang dibunyikan, kebuntuan tak juga terpecahkan. Skor 0-0 memaksa laga puncak ini ditentukan lewat adu tendangan penalti—babak yang menguji mental dan ketenangan.
Pada fase tos-tosan, Berlian Tomoli tampil lebih tenang. Empat algojonya, Suwanto, Asdiansyah, Muh. Rifal, dan Irfan sukses menjalankan tugas. Sementara satu penendang lainnya, Aril Sandi, gagal setelah bola melambung di atas mistar.
Di kubu Banteng Olaya, hanya Muh. Rizik dan Teguh Hidayatullah yang mampu mencetak gol. Dua penendang lainnya, Aan Elhiansyah dan Aswandi, harus gigit jari setelah sepakan mereka digagalkan kiper Savdal yang tampil sebagai pahlawan kemenangan Berlian. Alan Ilham tak perlu mengambil tendangan terakhir karena Banteng sudah tertinggal dua gol.
Kemenangan ini memastikan Berlian Tomoli melaju sebagai Juara Zona 1 Liga 4 Kabupaten Parigi Moutong, sementara Banteng Olaya harus puas sebagai runner-up. Kedua tim selanjutnya masih menanti wakil dari Zona 2 untuk bertarung pada fase berikutnya demi memperebutkan gelar juara Liga 4 Parigi Moutong. AJI