Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan pencapaian akademik. Menuntut ilmu hingga jenjang tertinggi adalah fardhu dan kemuliaan dalam Islam. Namun, kita harus berhenti menormalisasi anggapan bahwa gelar adalah segalanya. Bukan pula kritik yang dilontarkan dari menara gading kesempurnaan, melainkan sebuah cermin yang saya hadapkan ke wajah sendiri. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya pun masihlah seorang pembelajar yang jauh dari kata selesai. Masih banyak ruang kosong dalam kompetensi diri yang harus diisi, dan masih panjang perjalanan untuk benar-benar menyeimbangkan antara amanah yang diemban dengan kapasitas yang dimiliki.
Bagi para pemimpin, komitmen tanpa kompetensi adalah kenaifan, sedangkan kompetensi tanpa komitmen adalah kelalaian. Jadilah orang berilmu, maka gelar akan menjadi penghias yang pantas, bukan topeng yang menipu. Karena di hadapan Tuhan dan sejarah, yang dicatat bukanlah seberapa panjang gelar di batu nisan, melainkan seberapa besar manfaat ilmu tersebut bagi kemanusiaan. Sudah saatnya kita berhenti memuja “kulit” (gelar) dan mulai menghargai “isi” (kompetensi). Masyarakat harus cerdas membedakan antara “kaum terpelajar” (yang hanya bersekolah) dengan “kaum intelektual” (yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan).*