Cendekiawan muslim Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendiagnosis fenomena ini sebagai the loss of adab. Ketika adab hilang, manusia tidak mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya, yang akhirnya memunculkan pemimpin palsu yang merusak sendi-sendi kehidupan. Sebagaimana Al-Attas berpendapat bahwa:

“Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu pengetahuan… mengakibatkan hilangnya adab. Keadaan ini memunculkan pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang, yang bukan saja merusakkan ilmu, tetapi juga merusakkan kehidupan manusia.”

Islam sejak lama mengingatkan, di antaranya melalui nasihat bijak dari Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad bahwa “ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sia-sia”. Imam Al-Ghazali juga memperingatkan bahwa ilmu semata tidak akan menjauhkan seseorang dari maksiat jika tidak menyentuh substansi batin. Senada dengan itu, pemikir Islam dan tokoh Muhammadiyah Buya Hamka dalam Falsafah Hidup menegaskan:

“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan pada wajah dan pakaiannya.”

Jika ditarik ke konteks kepemimpinan, “pakaian” itu adalah termasuk gelar-gelar dan jabatan mentereng. Pemimpin sejati tidak bersembunyi di balik titel akademik. Kepemimpinan dalam Islam adalah khidmah (pelayanan), bukan sekadar kebanggaan status.

Filosofi Cermin Sebagai Refleksi Diri