Dampak paling fatal dari fenomena “banjir gelar, kemarau ilmu” ini terlihat jelas dalam ranah leadership. Saat ini, kita sering melihat pemimpin yang naik ke puncak hanya bermodalkan komitmen (kemauan) namun minim kompetensi (kemampuan). Banyak narasi motivasi yang bergaung: “Yang penting punya niat baik dan kemauan keras, sisanya bisa dipelajari sambil jalan.” Kalimat ini terdengar inspiratif, namun berbahaya jika diterapkan pada posisi strategis tanpa batas waktu yang jelas.

Pemimpin yang tidak berilmu (hanya bergelar) sering kali tidak mampu melihat root cause (akar masalah). Mereka sibuk membenahi gejala, bukan penyakitnya. Akibatnya, organisasi berjalan di tempat dan bawahan yang kompeten menjadi frustrasi. Respek bawahan kepada atasan di era ini tidak lagi ditentukan oleh SK Jabatan atau gelar akademik semata. Respek lahir dari kompetensi teknis dan kecerdasan emosional. Jika pemimpin tidak bisa memberikan arahan yang jelas atau solusi cerdas, wibawa kepemimpinannya akan runtuh dan menyisakan kepatuhan semu karena takut pada otoritas.

Memimpin dengan modal semangat tanpa bekal ilmu ibarat seorang pilot yang sangat ingin menerbangkan pesawat tapi tidak paham navigasi. Semangatnya tinggi, namun risiko kecelakaannya fatal. Keputusan diambil hanya berdasarkan intuisi atau trial and error, bukan berbasis data atau analisis mendalam. Gelar memang mampu mengundang kita masuk ke sebuah ruang, tetapi hanya kompetensi yang membuat kita layak duduk di kursi tersebut.

Hilangnya Adab dan Pesan Kaum Cendekia