Fenomena ini memunculkan dikotomi tajam antara “Orang Bergelar” dan “Orang Berilmu”. Keduanya terdengar serupa, namun dalam praktiknya sering kali berseberangan. Banyak orang terjebak pada mentalitas credentialism (kepercayaan berlebihan pada ijazah atau sertifikat). Bagi kelompok ini, gelar sering kali tereduksi menjadi sekadar kosmetik untuk menutupi ketidakmampuan manajerial, syarat administratif naik pangkat, atau validasi sosial semata. Akibatnya, muncul arogansi intelektual di mana gelar dijadikan benteng pertahanan, mereka enggan belajar dari orang lain yang status akademiknya lebih rendah.

Sebaliknya, “Orang Berilmu” memahami bahwa schooling (bersekolah) tidak sama dengan learning (belajar). Ijazah hanyalah tanda pernah sekolah, tetapi kompetensi adalah bukti pernah berpikir. Orang berilmu memiliki filosofi padi yang merunduk, semakin tinggi ilmunya, semakin sadar akan ketidaktahuannya, dan fokusnya bukan pada kartu nama, melainkan pada solusi atas masalah nyata.

Ketika Kemauan Melampaui Kemampuan