Oleh: Umar Hannase
(Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulteng/Dosen FEB Unismuh Palu)
Di era kontemporer ini, kita sedang menyaksikan fenomena “inflasi akademik” yang luar biasa. Nama pejabat publik, pemimpin organisasi, hingga politisi kian memanjang, sesak oleh deretan gelar mulai dari sarjana, magister, doktor, hingga beragam gelar profesi. Mendapatkan gelar kini terasa lebih mudah diakses dibandingkan beberapa dekade lalu.
Secara kasatmata, ini tampak sebagai kemajuan intelektual. Namun, jika ditelisik lebih dalam, muncul sebuah anomali yang menggelisahkan. Deretan gelar yang semakin panjang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kepemimpinan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kita berada dalam situasi di mana simbol pendidikan (gelar) dipuja berlebihan, sementara esensi pendidikan (karakter dan kebijaksanaan) sering kali tercecer di ruang-ruang kelas yang kosong akan makna.
Orang Bergelar vs. Orang Berilmu