(𝗔𝗯𝗱𝘂𝗹 𝗛𝗮𝗻𝗶𝗳-𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗞𝗮𝗶𝗹𝗶)
Bagi anda generasi 90-an, pasti pernah dengar nama S.Tijab. Siapakah dia? Nama lengkapnya Stanislaus Tidjab yang kemudian dia singkat menjadi S. Tidjab. Dia dikenal sebagai penulis sandiwara radio, seperti Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Kaca Benggala, dan Kidung Keramat yang populer pada tahun 1980 sampai 1990-an.
Dia selalu menyelipkan kisah-kisah yang ditulisnya dengan fakta Sejarah. Misalnya saja, kisah Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga dalam serial Tutur Tinular, yang diselipkan dalam fakta Sejarah awal-awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Bahkan karakter Mey Shin dan suaminya Law Shi Shan, dibuat seakan-akan pengkhianat yang dikejar pasukan Kubilai Khan, cucu Jengis Khan hingga ke Majapahit. Pasukan yang mengejar inilah yang kemudian telinganya dipotong dan menyebabkan murkanya Kubilai Khan sehingga ingin menyerang dan kemudian dimanfaatkan Raden Wijaya menghancurkan Jayakatwang.
Lalu siapa Dr. Efatha? Yang masih nanya, berarti Kudet (Kurang Update). Tapi baeklah, sekadar menambah Panjang tulisan ini, sedikit kami ungkap siapa itu Dr. Efatha, berdasarkan penelusuran jejak digitalnya, salahsatunya tulisan Dahlan Iskan.
Nama lengkapnya, Dr Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Meraih gelar doctor geostrategi dan geopolitik Universitas Brawijaya (Unibraw). Dia menulis sebuah analisis dari pandangannya sebagai seorang peneliti geostrategi dan geopolitik, detil teknis di balik Penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Tulisannya yang berjudul Operasi 300 Menit: Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela, begitu detil, runut dan disertai dengan data-data ilmiah. Semua orang kagum dengan detil kisah yang disajikan Dr Efatha. Tak kurang seorang Dahlan Iskan, secara terang memuji tulisan Dr Efatha.
Lalu apa hubungannya dengan S. Tidjab. Dalam penilaian kami yang kurang literasi ini, melihat ada benang merah atau kesamaan antara tulisan-tulisan S.Tidjab dengan Dr Efatha. Yakni sama-sama menyelipkan dongeng dalam fakta.
Dongeng? Karakter Arya Kamandanu adalah dongeng. Naga Puspa Kresna adalah dongeng. Semua itu adalah karakter fiksi yang dibuat oleh S.Tidjab. Demikian pula Sakawuni (Harus selipkan karakter Wanita, supaya pro gender).