SULTENG RAYA – Ekosistem ekonomi syariah yang di dalamnya termasuk keuangan syariah dan industri halal, dinilai harus menjadi bagian penting dalam mendorong dan mewujudkan aspirasi besar Indonesia Emas 2045.

Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ( ) Teguh Dartanto dalam seminar dan launching Indonesia Sharia Economic (ISEO) 2024. Sebab, menurutnya ekonomi dan keuangan syariah menunjukkan kinerja yang baik kendati dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi di tataran global atau pun nasional.

Teguh pun mengutip pernyataan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang concern dalam ekonomi syariah. Bahwa Indonesia harus mendorong akselerasi pencapaian visi sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah terkemuka di dunia.

“Tahun 2024 menjadi sebuah babak baru bagi Indonesia, terutama di tengah hiruk-pikuk atmosfer politik saat ini. Tetapi harus kita ingat bahwa pembangunan Indonesia harus semakin inklusif, resilien, berkelanjutan, dan menjunjung tinggi etika dan moral yang tinggi. Oleh karena itu, ekonomi dan keuangan syariah serta bisnis halal harus menjadi bagian penting dalam mendorong Indonesia emas 2045,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Sulteng Raya, Rabu (6/12/2023).

Hal tersebut menurut Teguh menjadi latar belakang dalam mengangkat topik seminar ISEO 2024 yaitu ‘Visi 2024 dan Tahun Politik, Membaca Arah Ekonomi Syariah Indonesia ke Depan'. Dengan demikian FEB berharap prinsip -nilai ekonomi Islam dapat dipahami, diterapkan dan dirasakan secara menyeluruh.

Pasalnya ekonomi Islam bersifat universal yaitu berkeadilan, kerja sama, kolaborasi, kebaikan, serta pembangunan yang seimbang dan berkelanjutan. “Oleh karena itu, saya berharap ISEO yang diselenggarakan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEB UI sejak 2010 harus terus konsisten, persisten, dan berkelanjutan dalam mengembangkan outlook ekonomi syariah terlengkap di Indonesia,” lanjutnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin. Wapres mengungkapkan bahwa masa depan bangsa Indonesia akan banyak dibentuk melalui transformasi penerapan inovasi dan teknologi tak terkecuali pada bidang ekonomi dan keuangan syariah.

Oleh sebab itu, Wapres mengharapkan peran perguruan tinggi seperti FEB UI dapat konsisten melahirkan gagasan dan inovasi, serta sumber daya manusia (SDM) unggul yang mengkreasi inovasi. Sehingga menghasilkan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasis teknologi dan inovasi terkini.

“Indonesia sebagai negara demokrasi dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, sudah sewajarnya berada di bangku kemudi dalam pengembangan ekonomi syariah global, dan menjadi model bagi terwujudnya Islam dan kemajuan. Saya titip kepada Universitas Indonesia untuk terus mencermati tren di tingkat global yang akan mempengaruhi model bisnis dan keuangan syariah, sehingga kita dapat mengantisipasi perubahan, merebut peluang, dan memenangkan persaingan,” ujar Wapres.

Sementara itu, Rektor UI Ari Kuncoro mengatakan Indonesia Sharia Economic Outlook 2024 diselenggarakan pada momentum yang tepat. Kondisi ekonomi dunia ke depan akan terus menantang efek dari konflik geopolitik baik di Eropa maupun kawasan Timur Tengah.

“Dengan demikian, ekonomi syariah bisa menjadi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Ini adalah sesuatu yang sangat penting, karena kalau kita lihat bahwa segala macam alternatif mesin pertumbuhan dalam situasi yang tidak pasti ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya senada Teguh.

Hal itu menurut Ari terbukti dengan kinerja berbagai sektor ekonomi dan keuangan syariah Indonesia bertumbuh dengan tren yang positif. Total aset perbankan syariah mencapai Rp831,95 triliun, tumbuh 10,94% secara tahunan per September 2023 dengan berkontribusi terhadap pangsa pasar mencapai 7,27%.

Dana Pihak Ketiga () perbankan syariah mencapai Rp637,63 triliun, tumbuh 9,26% secara tahunan. Selain itu, total pembiayaan mencapai Rp564,37 triliun, tumbuh 14,66% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

syariah juga tengah menikmati pertumbuhan signifikan seperti dilihat dari jumlah hingga kapitalisasi pasar. Sektor keuangan sosial Islam tak mau kalah di mana konsisten terjadi peningkatan pada penimbunan dana ZISWAF setidaknya dalam 5 tahun terakhir ini.

Pada industri halal, keempat sektor halal value chain mencatat kontribusi mencapai 25% dari PDB dengan tingkat pertumbuhan di angka 4,3%. Hampir sama dengan pertumbuhan PDB Indonesia. Performa gemilang ini, lanjut Ari, tidak terlepas dari upaya konsisten pemerintah mewujudkan visi master plan ekonomi dan keuangan syariah 2019-2024, Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka dunia.

“Rangkaian kebijakan berupa regulasi dan penguatan institusi terus dilahirkan. Sebagai contoh, selama dua tahun ke belakang, telah terbentuk 24 Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah di berbagai provinsi. Dari fisik produk hukum yang paling terbaru adalah Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan yang memperkuat Undang-Undang Perbankan No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah,” ujarnya.

Selain itu untuk penguatan industri halal Indonesia, baru-baru ini Master Plan Industri Halal Indonesia 2023-2029 telah diluncurkan oleh Wapres Ma'ruf Amin. Hal ini diharapkan dapat menjadi landasan bersama bagi perwujudan Indonesia sebagai pusat produsen halal terkemuka di dunia.

Oleh karena itu dia optimistis melalui ikhtiar yang konsisten dari berbagai stakeholder terkait, ekonomi dan keuangan syariah akan terus melangkah maju ke depan. Di mana ISEO dari PEBS FEB UI dapat terus memberikan input dan kunci terhadap arah pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bagi berbagai pemangku kebijakan.

Dalam acara tersebut Kepala PEBS FEB UI Rahmatina A. Kasri mengamini Teguh. Dia menekankan bahwa ekonomi keuangan syariah sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Inovasi produk keuangan syariah yang saling terintegrasi antara sektor komersial dan sosial terus berkembang berkembang.

Seperti cash waqf linked sukuk, cash waqf linked deposit, sukuk valas bank Indonesia, dan lain-lain. “Hal ini tentunya didukung oleh penguatan regulasi dan kelembagaan, sehingga membuahkan berbagai perkembangan jumlah institusi dan pelaku usaha di berbagai sektor ekonomi dan keuangan syariah,” tutup Rahmatina. RHT