SULTENG RAYA- Sekitar Delapan Ribu Universitas Tadulako (Untad) menjalani pendidikan bela negara selama empat hari, dari tanggal 27 sampai dengan 30 November 2023 di Auditorium Untad.

Dimana kegiatan itu dibagi empat sesi, masing-masing hari Senin, 27 November 2023 terdiri dari mahasiswa FKIP sebanyak 1.923 orang, Selasa 28 November 2023 terdiri dari mahasiswa FISIP, FABERTA, dan FABETKAN sebanyak 1.947 orang, Rabu 28 November 2023, mahasiswa dari FATEK, FAKUM, dan FK sebanyak 1.954 orang, dan terakhir Kamis 30 November 2023, terdiri dari mahasiswa FEB, FMIPA, FAHUT, FKM, dan PSDKU Morowali serta PSDKU Touna melalui daring aplikasi  Zoom sebanyak 2.103 orang.

Wakil Rektor III Untad, Dr. Ir. Sagaf Djalalemba, MP mengatakan, pendidikan bela negara tersebut diikuti oleh para mahasiswa baru tahun akademik 2023 bertujuan untuk memberikan pendalaman bagi terkait bahaya radikalisme, terorisme dan narkotika, serta memberikan kiat, cara, dan sistem penanggulangannya, bahkan sampai menghadirkan mantan Napiter untuk membagi pengalaman dan memberi kesempatan tanya jawab bagi peserta.

Adapun materi yang diberikan seputar bahaya radikalisme dan terorisme serta penanggulanganya, pemahaman nilai-nilai kebangsaan bagi mahasiswa, serta bahaya narkotika dan penanggulangannya. “Sementara pematerinya berasal dari Densus 88 Anti Teror Kepolisian RI, dan Direktur Reserse Narkoba dari Polda Sulteng,”sebut Sagaf.

Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, ST.,MT mengatakan, ini adalah kali pertama kampus yang dipimpinnya itu  melaksanakan pendidikan bela negara dan dipastikan akan menjadi agenda rutin setiap tahunnya diperuntukan bagi mahasiswa baru.

Dimana kegiatan tersebut kata Prof Amar, memberikan pencerahan dan pegayaan informasi kepada mahasiswa, khususnya agar dapat terhindar dari hal-hal dari radikalisme, terorisme, dan juga narkoba.

“Kegiatan ini perlu terus dilakukan, paling tidak institusi Untad yang selama ini ada stikma terpapar paham radikal bisa terbantahkan, termasuk dengan kehadiran presiden Joko Widodo sebelumnya, itu akan menjawab jika kampus ini bersih dari hal-hal tersebut,”ujar Prof Amar.

Sekaligus katanya, mahasiswa di kampus ini yang menjadi generasi penerus bangsa kedepan, betul-betul punya jiwa NKRI yang baik, tidak mudah terpengaruh hal-hal yang bertentangan dengan idiologi negara.

Sementara itu, seorang mantan Napiter Nasir Abas yang menjadi narasumber dalam pendidikan bela negara itu mengingatkan, agar mahasiswa perlu diperhatikan jangan sampai terpapar dengan ajakan-ajakan yang mengatasnamakan agama untuk melawan pemerintah, khususnya dalam aksi terorisme.

Untuk membentengi diri dari kejahatan sebutnya, maka perlu terlebih dahulu mengetahui apa kejahatan itu. Oleh karenanya, melalui pendidikan belana negara tersebut akan dijelaskan bahwa radikalisme itu adalah suatu kejahatan kemanusiaan. “Yang bisa membuat orang itu terpapar, mungkin dari kelas-kelas agama yang mereka lakukan, pertemuan-pertemuan. Begitu juga dengan lewat media-media sosial, mereka harus tau isi konten-konten  yang mengarah ke sana,”sebutnya.

Kemudian kata Nasir Abbas, awal akar dari orang itu terpapar adalah dari gagal melihat, dan gagal menghargai perbedaan, dari mereka gagal menghargai perbedaan dan merasa diri paling benar, dari situlah mulai berpotensi menjadi intoleran dan terus berlanjut radikalisme hingga terlibat terorisme.

“Jangan sampai mereka ini baru menjadi mahasiswa, kemudian mendapatkan salah guru, salah guru ini apakah dari seniornya ataukah dari luar yang baru mereka berkenalan, melalui pendidikan bela negara ini mereka mendapatkan pengetahuan, sehingga bisa mengantisipasi dan menolak jika ada ajakan perekrutan,”ujarnya. ENG