Oleh:Kasman Jaya Saad

(Dosen Unisa )

25 hari telah berlalu, kita telah menempa diri mengerem dan menaklukan kesenangan. Tak hanya diajarkan untuk tidak makan dan minum, namun juga pada  hal-hal yang berlebihan dan tidak bermanfaat. Puasa melatih untuk menaklukkan kesenangan.

Karena kita pada dasarnya menyenangi nyantai, nyenyak dan kenyang. Namun di bulan baik ini, kita tidak diperkenankan melakukan itu sepuasnya. Puasa melatih mengerem keinginan-keinginan kesenangan itu. Puasa mengantar mencapai titik yang memiliki kekuasaan sejati. Kekuasaan atas diri sendiri – kekuasaan atas pikiran, kekuasaan atas ketakutan, dan kekuasaan atas akal dan jiwa. Sebab tidak ada yang dapat membuat kita damai, kecuali diri kita sendiri. Diri yang di dalamnya terpatri pikiran dan hati bersih, karena telah terlatih mengerem kesenangan semu yang selalu menggoda yang tak ada ujungnya.

Pikiran selalu memegang kendali mau dibawa ke mana hidup kita. Pikiran mengantar kita dalam kedamaian atau konflik. Kebahagiaan, kesedihan, rasa sakit dan amarah, dimulai dari pikiran kita sendiri.

Bukan hubungan pekerjaan, bukan hubungannya dengan uang, dan bukan pula kekuasaan yang membangun itu semua. Tapi diri sendiri yang menciptakan sensasi itu. Tentang apa yang kita pikirkan. Ada yang tetap bisa menjalani hidup dengan penuh suka cita di tengah keterbatasan. Ada pula yang hidupnya begitu tersiksa dikejar-kejar rasa bersalah meski telah memiliki segalanya.

Maka, semua yang berasal dari luar diri kita hanyalah perantara untuk menjadikan hidup menjadi bermakna dan meninggalkan kesan bagi diri sendiri, orang lain, dan kehidupan.

Lalu, puasa datang untuk mengosongkan pikiran dari kotoran yang terhimpun selama sebelas bulan terakhir. Untuk kembali menjadikan pikiran kita raja atas diri kita, bukan raja atas nafsu yang terus mengikat. Agar pikiran menghasilkan kerangka yang jernih dalam mengelola yang masuk harus didukung dengan hati yang bersih. Dan lagi-lagi, puasa akan menghadirkan hati yang bersih dan terawat. Hati yang akan melahirkan sifat-sifat terpuji yang menjadi trade mark-nya perbuatan-perbuatan yang muncul.

Bulan puasa sebagai detoks hati dan pikiran dari kesan duniawi yang terlalu mengikat

Dan puasa juga tempat menata pikir dengan selalu berprasangka baik. Pikiran yang terkelola dengan benar adalah representasi dari lingkungan kita berada. Menata diri dan keluarga tempat dimulainya segala kebaikan itu bersemi, di dalamnya ada cinta dan kasih sayang yang tumpah ruah. Puasa adalah sebuah metode untuk memelihara asupan yang baik bagi pikiran dengan informasi positif dan tindakan bermanfaat. Lingkungan di bulan puasa menjalin penuh damai dan kemenangan serta ketenangan bathin. Di dalamnya diajarkan untuk menyapa dengan lembut, sebatas kebenaran yang keluar dan membanjiri mulut kita yang tak berhenti memuja dan memohon ampun kepada-Nya atas segala khilaf yang telah terberikan. Bulan puasa juga diajarkan untuk bisa memilih dan memilah informasi yang benar dan terus mentadaburi Al Qur'an dengan memaknai dalam aktivitas kehidupan keseharian.

Disisa hari-hari terakhir bulan puasa ini, sejatihnya kita telah menjadi pribadi yang wise, pribadi yang mampu mengelola rasa untuk mengasa asa nurani.

Pribadi yang telah mampu menahan tumpah ruahnya keinginan, atau usaha mengendalikan kebiasaan melampiaskan kesenangan. Pada tesis yang lebih jauh, puasa adalah usaha konstruktif untuk membangun relasi sosial, dan membuat hidup lebih bermakna dan berarti.

Bukan hidup yang hedonis, yang dipenuhi perilaku kecintaan terhadap diri sendiri (self-esteem) melampaui kecintaan terhadap orang lain dan secara konstan terus mencecar pikiran dengan paradigma bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik ialah dengan segala sesuatu yang lebih dan lebih. Senang dan terus dipenuhi kesenangan. Hingga secara tidak sadar menjadi lalai dengan kebutuhan yang paling mendasar karena dituntut untuk mengejar sesuatu yang lebih, berbuat lebih banyak, dapat lebih banyak, jadi lebih dan lebih. Konstruksi nafsu dunia yang tak bertepi.

Akhir kalam, semoga dengan latihan menaklukkan kesenangan di bulan puasa, kita makin prudent dalam kehidupan di bulan-bulan berikutnya, menjadi pribadi yang bisa mengelola diri dengan arif dan bijaksana, tak berlebih-lebihan. Pribadi dilejitkan dengan kepantasan akan kesederhanaan dan kemuliaan tutur serta budi baiknya. ****