Oleh: Sukriadi, S. fil.I, MH

(Ketua FKUB Kabupaten Morowali Utara)

Bulan bisa dikatakan sebagai bulan paling agung bagi umat islam. Bulan yang selalu dinantikan dan dirindukan. Hal ini tentu tidak berlebihan, karena di bulan ini Allah SWT menurunkan 2 kewajiban kepada umat islam yaitu Ibadah Puasa dan Fitrah. Dua ibadah yang bersifat pribadi sekaligus juga memiliki sosial yang tinggi disamping ibadah-ibadah sunnah lain yang tidak ternilai harganya.

Puasa sejatinya bukan hanya dilaksanakan dengan menahan lapar dan haus semata, tapi juga harus bernilai lebih baik secara spritual, intelektual dan emosional, sehingga puasa yang begitu agung dan melelahkan, bisa membawa dampak bagi pribadi yang berpuasa itu terlebih kepada lingkungan sekitar.

Salah satu spirit puasa yang harus kita petik adalah spirit menjaga toleransi beragama yang dalam wujud nyatanya, nampak dari sikap di bulan ramadan khususnya di saat orang menjalankan puasa, baik itu bagi Umat Islam yang berpuasa atau umat beragama lain yang tidak berpuasa.

Bagi mereka yang berpuasa, mereka harus berusaha mempertahankan agar puasanya tidak batal dengan segala cara, agar kewajiban berpuasa bisa sah, salah satu caranya adalah dengan menghindari diri dari melihat makanan atau minuman yang bisa menimbulkan keinginan dan hasrat untuk membatalkan puasa.

Spirit yang sama tentu harus juga dimiliki oleh mereka yang tidak berpuasa, untuk sebisa mungkin berempati dan bertoleransi kepada mereka yang sedang berpuasa dengan tidak memamerkan makanan atau minuman kepada mereka yang berpuasa, terlebih menghindari  untuk melakukan aktivitas makan dan minum di hadapan orang yang berpuasa. Untuk menjaga kenyamanan lalu lintas di saat orang sedang shalat tarawih dan momen – momen lain yang membutuhkan hal serupa.

Inilah yang saya maksudkan sebagai spirit toleransi, spirit menjaga kedewasaan dan spirit menjaga keragaman yang jika bisa kita lakukan di saat puasa tentu juga nilai-nilai toleransi yang sama bisa kita lakukan di bulan bulan yang lain. Wassalam. ****