Oleh: Mutmainah Korona, Muchsin Ali, dan Rini Haris
(Anggota DPRD Kota Palu)
Jogjakarta selalu menjadi daerah wisata yang selalu membuat kita kangen tuk kembali kesini. Mengapa? selain spot wisata baru yang terus dihadirkan, berbagai kuliner lokal maupun tematik yang terus bergerak maju, dan berbagai tradisi budaya yang selalu terpromosi dengan baik. Selain keramahan masyarakat jogja yang terus terjaga.
Namun di perkembangan digitalisasi governance, tentunya inovasi program terus berkembang. Dan tentunya Kota Jogja yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia yang kaya akan budaya, sejarah, dan tradisi. Di tengah perkembangan teknologi digital, Jogja terus berinovasi melalui konsep smart tourism yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga tetap berakar pada kearifan lokal.
Smart tourism di Jogja diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan pengalaman wisatawan. Misalnya, penggunaan aplikasi digital untuk panduan wisata, pemesanan tiket secara online, serta penyediaan informasi destinasi secara real-time.
Wisatawan dapat dengan mudah mengakses informasi tentang tempat wisata, kuliner khas, hingga agenda budaya hanya melalui smartphone. Ada sekitar 800 hotel dan penginapan yang tersedia, 150 event yang sebagian di gerakan oleh komunitas atau pihak swasta, dan 50 destinasi wisata yang menarik untuk di kunjungi termasuk destinasi kampung wisata.
Karena Kota Jogjakarta tidak memiliki destinasi wisata alam laut dan pegunungan, namun Pemkot Jogjakarta menjadi garda utama dalam mempromosikan berbagai wisata yang ada disekitarnya, seperti wisata Lava Tour Merapi, Candi Prambanan, Prambanan Jazz, Agrowisata Bhumi Merapi, Pantai pasir putih, On The Rock, Ibarbo Park, Obelix Hills, HeHa Forest, Pictniq, dll.
Keunggulan lain Jogja juga terletak pada kemampuannya mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai lokal. Kearifan lokal seperti budaya gotong royong, keramahan masyarakat, serta pelestarian tradisi tetap menjadi daya tarik utama.
Desa wisata di sekitar Jogja, seperti yang mengembangkan kerajinan batik, seni pertunjukan, dan kuliner tradisional, menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat mendukung promosi tanpa menghilangkan identitas budaya.
