Perekat Rakyat Sulteng.

Enjoy a Spacious Driving Comfort

Drive Unlimited Way

Warga BTN Lasoani Ancam Meginap di Kantor PDAM Donggala

SUPLAI AIR TIDAK LANCAR

0 210

SULTENG RAYA – Sebanyak 60 kepala keluarga (KK) di BTN Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu mengancam bakal menginap di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Donggala. Ancaman itu muncul lantaran suplai air di pemukiman mereka tidak lancar.

Salah seorang warga, Nur Fina mengaku, pihaknya telah menemui pihak PDAM Donggala melakukan komplain atas masalah tersebut. Hasilnya, pihak PDAM Donggala berjanji bakal merealisasikan penyaluran air ke BTN Lasoani dalam pekan ini.

“Kami sudah ketemu dengan pihak PDAM Donggala, mereka janji satu minggu sudah mengalir kembali air di BTN ini. Karena kata kepala PDAM ada masalah di mesin dan butuh waktu satu minggu diperbaiki. Debit air juga menurut mereka menjadi penyebab,”kata Nur Fina menirukan Kepala PDAM Donggala, saat ditemui, Senin (3/2/2020).

Selain itu, sebagai solusi atas keluhan para pelanggannya PDAM Donggala juga berjanji siap menyuplai air menggunakan mobil tangki dan menyiapkan tandon selama waktu perbaikan.

“Kepala PDAM juga berjanji akan menyuplai air dan menyiapkan tandon bagi kami untuk mengatasi sementara masalah ini,” kata Nur Fina.

Menurutnya, kondisi krisis air sudah dialami warga setempat sejak pascabencana setahun silam. Selama itu warga masih kompromi. Puncaknya, selama Januari 2020, warga hanya mendapatkan suplai air dua kali. Akibatnya, warga harus rela merogoh kocek dalam-dalam membeli air untuk memenuhi kebutuhan.

“Kami tunggu janji Kepala PDAM. Pernyataan yang diungkapkan juga janggal menurut kami, karena hanya di blok F, blok G dan blok H yang kiris air. Bahkan bulan kemarin kami hanya dua kali air mengalir,” ungkapnya.

Pemicu kekesalan warga paling utama adalah tetap diwajibkan membayar rekening air meski tidak mendapat pasokan. Mirisnya, jika warga tidak membayar atau terlambat membayar, maka petugas PDAM mengumumkan nama yang terlambat membayar di masjid.

Senada, Satrra Trhesia, warga lainnya, mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan seperti membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari, hingga biaya laundry untuk mencuci pakaian.

“Saya bayar laundry sudah hampir Rp1 juta gara-gara tidak ada air. Kita juga setiap hari harus beli air untuk kebutuhan hidup, yang paling parah kalau kita komplain petugas PDAM hanya bilang “oh tidak mengalir lagi air,”bahkan setiap bulan kami ditagih Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per bulan,” tutur Satrra Trhesia.

Jika permasalahan ini benar-benar tidak diselesaikan, maka warga mengancam akan tinggal di Kantor PDAM. Sebab krisis air sendiri sudah sering dirasakan masyarakat di pemukian itu.

“Kami sudah sepakat, kalau satu minggu belum normal air. Kita akan tinggal di kantor PDAM, mencuci di sana (Kantor PDAM Donggala) kalau perlu kita bangun tenda,” tegas warga.CR5

Balas

Email tidak akan dipublikasikan