Perekat Rakyat Sulteng.

Tiga Tahun Terakhir, 21 Jurnal Dosen Unismuh Tembus Scopus

0 33

SULTENG RAYA-Jalan tiga tahun kepemimpinan Dr.Rajindra, SE,. MM sebagai rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, terhitung sejak tanggal 18 April 2017, kini telah tercatat sebanyak 21 jurnal dosen yang sudah terindeks scopus.

Dari 21 jurnal itu, terdapat beberapa nama dosen penulis terbanyak, diantaranya Ahmad Yani S.KM., M.Kes sebanyak 13 Jurnal,  menyusul Dr.Rajindra, SE,. MM sebanyak 4 jurnal, Dr. Andi Darmawati Tombolotutu, SE.,M.Si sebanyak 3 jurnal, Dr.  Sri Jumiyati, S.P., M.Si sebanyak  2 jurnal, dan Burhanuddin, SE,.MM sebanyak 2 jurnal.

Capaian tersebut tidak terlepas dari usaha Rajindra mendorong dosen turun melakukan penelitian dan penulisan jurnal, sambil melakukan pemutuan melalui worksop dan pelatihan dengan mendatangkan pemateri yang dinilai mumpuni yang bisa memberikan bimbingan kepada para dosen.

Bahkan, tidak jarang universitas mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk membiayai penelitian dosen yang tidak tembus hibah dikti, begitu juga dengan biaya jurnal, berkali-kali rektor mengumumkan jika universitas setiap saat siap membiayai penerbitan jurnal dosen.

Kini semua usaha tersebut mulai terlihat hasilnya, jalan tiga tahun kepemimpinannya telah tercatat 21 jurnal dosen yang sudah tembus terindeks scopus dari awalnya sama sekali tidak ada, begitu juga dengan peningkatan grade penelitian dari Binaan meningkat ke Madya . “Alhamdulillah, dari awalnya sama sekali tidak ada, kini sudah tercatat 21 jurnal dosen yang  sudah terindeks scopus,”ungkap Wakil Rektor 1 Unismuh Palu, Dr Rafiuddin Nurdin, Selasa (17/12/2019).

Capaian tersebut kata Rafiuddin, semoga bisa menjadi motivasi bagi dosen lain agar jurnal-jurnal mereka juga bisa tembus ke scopus, mengingat Publikasi di jurnal internasional (scopus) merupakan alat untuk membangun reputasi individu dosen dan universitas tempat mereka mengabdi. Dengan bantuan internet, artikel yang dimuat dapat dibaca dan disitasi akademisi di dunia.

Artikel yang disitasi berarti telah mengandung konten yang layak secara ilmiah sebagai sumber kebenaran pengembangan keilmuan. Dosen yang karya ilmiahnya banyak disitasi pun akan mendapatkan h-indextinggi sebagai bukti indikator pengakuan dunia akademik terhadap eksistensi dan kualitasnya.

Rafiuddin juga mengatakan, bahwa ada wacana mendorong satu atau dua dosen yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi guru besar, mengingat hingga hari ini kampus biru itu belum memiliki guru besar. “Salah satu syaratnya itu adalah jurnal, kita sudah memiliki dosen yang syarat dari jurnal itu sudah terpenuhi,”katanya.

Ia berharap, wacana tersebut bisa terealisasi dibawah kepemimpinan Rajindra. AMI

- A d v e r t i s e m e n t -

Balas

Email tidak akan dipublikasikan