Perekat Rakyat Sulteng.

STAI Poso Gelar Dialog Perdamaian

0 121

SULTENG RAYA – Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Sekolah Tinggi Agama Islama (STAI) Poso, bersama Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Poso dan AMAN Indonesia menggelar dialog bertajuk Peace Goes To Campus.

Dialog yang digelar di kampus STAI Poso, pada Kamis 23 Maret 2017 tersebut, dihadiri 50 tamu undangan, baik dari mahasiswa STAI, perwakilan mahasiswa Unsimar Poso dan sejumlah pemuda Poso yang tergabung dalam beberapa organisasi kepemudaan.

Dengan mengambil tema Dialog Penguatan Toleransi dan Kebangsaan Bagi Kaum Muda di Poso. Hadir sebagai pembicara Adriany Badrah selaku Direktur Celebes Institute Sulawesi Tengah, Hanifah Haris dari AMAN Indonesia, Ibrahim Ismail Ketua III STAI Poso, Gunawan Primasatya seorang toko pemuda yang merupakan Alumni Young Southeast Asia Leadership Innovative di Chicago, Amerika 2016 dan Budiman Maliki Ketua LP2M STAI Poso turut sebagai moderator.

Sebelum kegiatan dimulai, dialog dibuka secara resmi oleh Ketua STAI Poso Nasrudin L Midu. Dalam sambutanya Nasrudin menyampaikan, kampus STAI Poso terlahir adanya semangat oleh para pengurus kampus, akibat permasalahan konflik sosial masa lalu yang tercerai berai, sehingga dalam kondisi yang terjadi pada masa itu harus diubah, untuk menjadi lebih baik. Semangat itulah yan mendorong kampus STAI Poso untuk membentuk kader-kader pemuda untuk membawa misi perdamaian.

Nasrudin mengatakan, kampus STAI Poso merupakan kampus yang mendapat dukungan sepenuhnya dari pihak non muslim. Disaat kepemimpinan mantan bupati Poso Piet Inkiriwang pada tahun 2010 yang beragama nasrani, di situ bupati Poso Piet Inkiriwang mau mendukung serta meresmikan kampus STAI Poso.

Sementara itu Hanifah Haris dari AMAN Indonesia menjelaskan, jika konflik itu bukan soal agama yang mendasari, permasalahan lain pun yang menyangkut kebijakan pemerintahan juga membuat konflik bisa terjadi.

Selain itu, permasalahan dendam yang terjadi di masa lalu membuat potenis adanya konflik bisa terjadi, apalagi soal daerah yang pernah mengalami konflik. Untuk mengobati hal ini, dibutuhkan peran pemerintah dan sejauh ini peran pemerintah gagal untuk mengobatinya.

Kata Hanifa, peran pemuda dibutuhkan untuk memilah-milah informasi yang beredar di dunia maya, hal ini untuk mengantisipasi agar jangan mudah mempercayai adanya informasi berita dimedia sosial tanpa melihat isi kebenaran berita tersebut.

Gunawan Primasatya sebagai pemuda Poso menyampaikan, jika peran dari pemuda perlu ada pengawasan dari berbagai pihak, tak hanya pemerintah daerah saja, pihak kelurga serta lingkungan hidup bisa mengawasi peran pemuda.

Sehingga dapat mengantisipasi perilaku diluar ajaran agama termasuk masalah radikal atau pemahaman terorisme. Peran pemuda ungkap Gunawan, harus dapat memberikan berbagai kegiatan positif serta menampilkan karya untuk membangun Poso ke arah lebih baik.

Menurut Adriany Badrah Direktur Celebes Institute Sulawesi Tengah, selama ini pihaknya telah melakukan evaluasi kepada mantan narapidana kasus terorisme. Kata Adriany, kota Poso dulunya daerah yang beragam memiliki agama dan budaya yang sangat mencintai kedamaian.

Namun itu semua bisa berubah karena adanya kekerasan yang terjadi konflik horisontal dimasa lalu. Sehingga peran kaum pemuda , pemerintah, organisasi keagamaan, LSM, masyarakat, kampus sekolah sangat dibutukan untuk merubah permaslahan itu dan memberikan semangat baru membuat pemuda Poso lebih mencintai kedamaian.

Adriany menambahkan, mantan narapidana kasus terorisme perlu didampingi dengan mensajikan program reintegrasi sosial, bagaimana implementasi program memberikan dampak terhadap mantan napi terorisme.

Ketua III STAI Poso Ibrahim Ismail berharap, adanya dialog ini para pemuda bisa melahirkan semangat baru, untuk menciptakan kader terbaik, memberikan peranya membangun Poso kearah lebih baik dengan mengutamakan perdamaian.

Acara dialog ini dirangkaikan dengan sesi tanya jawab oleh para mahasiswa dan tamu undangan kepada narasumber yang hadir. Selain itu kegiatan dialog ini juga dihadiri Ibu Pendeta Roswin Wuri dari Sinode GKST Tentena dan Pengurus Sekolah Perempuan.SYAM

- A d v e r t i s e m e n t -

Balas

Email tidak akan dipublikasikan