Perekat Rakyat Sulteng.

Sekprodi FMP Unhan, Isi Kuliah Tamu di Fekon Untad

0 60

SULTENG RAYA – Sekretaris Program Studi (Sekprodi) Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) di Bogor, Dr. Yusuf Ali, SE.,MM   mengisi kuliah tamu yang diselenggarakan Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi (Fekon) dan Bisnis Universitas Tadulako (Untad) di gedung IT Center Untad, Kamis (12/9/2019).

Kuliah tamu tersebut, mengangkat tema tentang ‘NKRI Menuju Peperangan Asimetriks dalam Perspektif Ekonomi’.

Dalam pemaparan materinya, Yusuf Ali menerangkan tentang betapa pentingnya kalangan akademis mendeteksi potensi dan bahaya yang ditimbulkan oleh asimetriks, yang tentunya mengancam berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, terkhusus pada bidang perekonomian.

Menurutnya, perang yang terbuka dewasa ini dari aspek informasi harus di sikapi dengan bijak oleh seluruh kalangan. Informasi, kata dia, dengan perkembangan teknologi, sudah bisa diakses dari belahan dunia manapun, hal itu mengakibatkan rentannya aspek provokatif yang bisa saja ditimbulkan melalui proxy war.

Proxy war dapat diartikan sebagai perang antar dua negara atau aktor non-negara yang terjadi karena dorongan atau mewakili pihak lain yang tidak terlibat langsung di pertempuran.

“Ada dampak positif terhadap kebebasan adalah memperoleh informasi, namun tidak sedikit dampak negatif yang dihasilkan. Misalanya menimbulkan perpecahan dimana-mana di nusantara ini. Ketika ada konflik, lihatlah mereka bermain melalui sosial media. Kita kita bisa mendeteksi yang membuat tulisan tersebut adalah orang Indonesia atau bukan, ketika kita menelan mentah info itu, maka potensi gesekan akan sangat tinggi,” ucapnya.

“Dari aspek ekonomipun demikian, perdagangan bebas sudah tidak bisa terhindarkan. Saya beri contoh, Ayam Brasil yang sudah mendunia, jika bersaing dengan ayam lokalan kita di daerah, itu bukan bandingannya yang daya tahan jauh bisa bertahan. Otomatis potensi menguasai pasar lebih besar, belum lagi jika harganya yang terjangkau, maka usaha kita terancam bangkrut. Disitulah negara asing bisa masuk menawarkan produk dan akhirnya kita dikuasai,” ujarnya menabahkan.

Menurutnya, output yang ingin dihasilkan dari pemaparan materi itu, adalah kalangan milenial mampu berinovasi dan menggunakan teknologi informasi yang serba cepat saat ini, untuk mengembangkan usaha.

Katanya, jika cerdas dalam memanfaatkan peluang yang terbuka, maka tidak menutup kemungkinan, brand yang dihasilkan mampu go international, bukan tidak mungkin juga mampu mempengaruhi pasar-pasar internasional.

“Kita melihat fenomena, seperti di Arab, orang Indonesia juga banyak disana ketika musim haji. Nah, mereka rata-rata untuk konsumsi, jualan produk disana mendominasi adalah produk Thailand seperti beras, makanan, sayuran dan masih banyak lagi. Kenapa kita tidak pikirkan itu, itu peluang bagi kita untuk menyediakan kebutuhan orang indonesia disana sesuai selera, produk lokal bisa kita impor kesana, peluang itu sangat terbuka,” ucapnya.

Dikatakannya, untuk menghindari dampak negatif asimentriks yang ditimbulkan, baik dari perang dagang maupun potensi perpecahan adalah program bela negara yang saat ini gencar dilaksanakan.

Bela negara, kata dia, tidak melulu berbicara tentang militerisasi. Namun, esensi dari bela negara ada barbagai aspek yang dimasukkan. Menanamkan cinta tanah air dan rasa memiliki haruslah dimulai dari kesadaran. Kesadaran yang timbul dari individu untuk mencintai NKRI, menjadi kunci utama.

“Yang kita butuhkan awal itu sebenarnya adalah kesadaran. Selanjutnya, bela negara ini harus diterapkan kepada setiap individu, khususnya civitas akademika. Mohon dicatat, konten bela negara itu banyak perpektif, jauhkan stigma negatif, oh ini kita mau dijadikan militer,” ungakpnya.

“Saya contohkan yang kecil, menebang pohon, kalau kita mencintai tanah air, pasti akan berpikir, apa dampaknya ketika kita menebang ini, kerusakan apa yang ditimbulkan. Ah, kalau begitu saya tidak jadi menebang pohon untuk keperluan saya sendiri, mendingan biarkan dia hidup untuk menghasikan manfaat kepada orang banyak. Itu juga salah satu konsep cinta tanah air, begitupun menyikapi perekonomian,” ujarnya menambahkan.

Dirinya berharap, melalui kuliah tamu tersebut akan menambah khasanah keilmuan para mahasiswa untuk lebih mencintai negera sendiri dalam segalam hal. Kata dia, jika itu berhubungan dengan ekonomi, maka solusianya adalah mencintai produk dalam negeri, dan berupaya membuat inovasi produk yang bisa bersaing di pasar internasional

Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan dan diikuti secara antusias dengan dialog interaktif diakhir materi. RHT

- A d v e r t i s e m e n t -

Balas

Email tidak akan dipublikasikan