oleh

Sejarah Singkat Kota Palu

SULTENG RAYA – Tepat pada Ahad (27/9/2020) kemarin, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu memperingati hari jadi ke-42 Kota Palu sebagai kota administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978 tentang Pembentukan Kota Administratif Palu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahun (HUT) Kota Palu diperingati dengan pelaksanaan upacara di halaman Kantor Wali Kota Palu. Tahun ini, upacara peringatan HUT ke-42 Kota Palu dipimpin langsung Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

Dalam pemaparannya, Gubernur Longki berpesan kepada masyarakat agar tetap patuh menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

“Kita tidak boleh menyerah, kita harus lawan (Covid-19). Ini merupakan tantangan yang harus kita hadapi, karena Covid-19 merupakan virus yang nyata dan mudah menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jabatan etnis dan agama. Untuk itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama tetap menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah,” kata Gubernur Longki.

Lalu bagaimana sejarah Kota Palu hingga hari jadinya diperingati setiap 27 September?

Disadur dari laman https://palukota.go.id/, Palu adalah ‘Kota Baru’ teletak di muara sungai. Dr Kruyt menguraikan, Palu sebenarnya tempat baru dihuni orang (De Aste Toradja’s van Midden Celebes).

Awal mula pembentukan Kota Palu berasal dari penduduk Desa Bontolevo di Pegunungan Ulayo. Setelah pergeseran penduduk ke dataran rendah, akhirnya mereka sampai di Boya Pogego (sekarang).

Kota Palu sekarang, bermula dari kesatuan empat kampung, yaitu Besusu, Tanggabanggo (Siranindi) sekarang bernama Kamonji, Panggovia sekarang bernama Lere, Boyantongo sekarang bernama Kelurahan Baru.

Kemudian, masyarakat dari empat kampung itu membentuk satu Dewan Adat disebut ‘Patanggota’. Salah satu tugasnya adalah memilih raja dan para pembantunya yang erat hubungannya dengan kegiatan kerajaan.

Kerajaan Palu lama-kelamaan menjadi salah satu kerajaan dikenal dan sangat berpengaruh. Itulah sebabnya Belanda mengadakan pendekatan terhadap Kerajaan Palu. Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado pada 1868.

Baca Juga :   Operasi Yustisi Jaring 78 Pelanggar Prokes

Pada 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu. Setelah itu, ia digantikan oleh Raja Jodjokodi. Pada 1 Mei 1888, Raja Jodjokodi menandatangani perjanjian pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda.

Sejak 1796 hingga 1960, Kerajaan Palu dipimpin 11 raja, yakni Pue Nggari (Siralangi) 1796 – 1805, I Dato Labungulili 1805 – 1815, Malasigi Bulupalo 1815 – 1826, Daelangi 1826 – 1835, Yololembah 1835 – 1850, Lamakaraka 1850 – 1868.

Kemudia, Maili (Mangge Risa) 1868 – 1888, Jodjokodi 1888 – 1906, Parampasi 1906 – 1921, Djanggola 1921 – 1949 dan Tjatjo Idjazah 1949 – 1960,

Setelah Raja Tjatjo Idjazah, tidak ada lagi pemerintahan raja di wilayah Palu. Setelah masa kerajaan telah ditaklukan pemerintah Belanda, dibuatlah satu bentuk perjanjian ‘Lange Kontruct’ (perjanjian panjang) yang akhirnya diubah menjadi ‘Karte Vorklaring’ (perjanjian pendek).

Hingga akhirnya Gubernur Indonesia menetapkan daerah administratif berdasarkan Nomor 21 Tanggal 25 Februari 1940. Kota Palu termasuk dalam Afdeling Donggala yang kemudian dibagi lagi lebih kecil menjadi Arder Afdeling, antara lain Order Palu dengan ibu kotanya Palu, meliputi tiga wilayah pemerintahan Swapraja, yakni Swapraja Palu, Swapraja Dolo dan Swapraja Kulawi

PEMBENTUKAN KOTA ADMINISTRATIF

Pertumbuhan Kota Palu setelah Indonesia merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda kemudian Jepang pada tahun 1945 semakin lama semakin meningkat. Hasrat masyarakat untuk lebih maju dari masa penjajahan dengan tekad membangun masing-masing daerahnya. Berkat usaha makin tersusun roda pemerintahannya dari pusat sampai ke daerah-daerah.

Baca Juga :   Tak Masuk DPT, Warga Diakomodir Dalam DPTb

Maka terbentuklah, daerah Swatantra tingkat II Donggala sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1952 selanjutnya melahirkan Kota Administratif Palu berbentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978 tentang Pembentukan Kota Administratif Palu.

Berangsur-angsur susunan ketatanegaraan RI diperbaiki Pemerintah Pusat, disesuaikannya dengan keinginan rakyat di daerah-daerah melalui pemecehan dan penggabungan pengembangan daerah. Kemudian dihapuslah pemerintahan Swapraja dengan keluarnya peraturan antara lain, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Terbentuknya Dati I Propinsi Sulteng dengan Ibu Kota Palu.

Dasar hukum pembentukan wilayah Kota Administratif Palu yang dibentuk tanggal 27 September 1978 atas Dasar Asas Dekontrasi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Kota Palu sebagai Ibu Kota Propinsi Dati I Sulawesi Tengah sekaligus Ibu Kota Kabupaten Dati II Donggala dan juga sebagai Ibu Kota pemerintahan wilayah Kota Administratif Palu. Palu merupakan kota kesepuluh ditetapkan Pemerintah menjadi kota administratif.

Sebagai latar belakang pertumbuhan Kota Palu dalam perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari hasrat keinginan rakyat di daerah ini dalam pencetusan pembentukan Pemerintahan wilayah kota untuk Kota Palu, dimulai sejak adanya Keputusan DPRD Tingkat I Sulteng di Poso Tahun 1964.

Atas dasar keputusan tersebut, maka diambil langkah-langkah positif Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Pemerintah Dati II Donggala guna mempersiapkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kemungkinan Kota Palu sebagai Kota Administratif. Usaha ini diperkuat dengan SK Gubernur KDH Tingkat I Sulteng Nomor 225/Ditpem/1974 dengan membentuk Panitia Peneliti kemungkinan Kota Palu dijadikan Kota Administratif, maka Pemerintah Pusat telah berkenan menyetujui Kota Palu dijadikan Kota Administratif dengan dua kecamatan yaitu Palu Barat dan Palu Timur.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tanggal 12 Oktober 1994, Mendagri Yogi S Memet meresmikan Kota Madya Palu dan melantik Rully Lamadjido sebagai Wali Kota pertama (1994-2000).

Baca Juga :   Realisasi DD di Sulteng Mencapai 84 Persen

Hingga sekarang, Kota Palu telah dipimpin enam Wali Kota Palu. Setelah Rully Lamadjido, Kota Palu dipimpin Baso Lamakarate bersama wakilnya, Suardin Suebo (2000-2004). Pada 2004 Baso Lamakarate meninggal dunia. Posisinya digantikan wakilnya, Suardin Suebo sejak 17 Mei 2004 hinga12 oktober 2005.

Wali Kota keempat dipimpin Rusdy Mastura dan wakilnya Suardin Suebo (2005-2010). Selanjutnya, Rusdy Mastura kembali terpilih menjadi Wali Kota Palu untuk periode keduanya setelah memenangkan Pemilihan Wali Kota Palu pada 2010. Wakilnya, Mulhanan Tombolotutu  (2010-2015).

Pada 19 Oktober 2015, setelah berakhirnya masa pemerintahan Rusdy Mastura-Mulhanan Tombolotutu, Moh Hidayat Lamakarate ditunjuk menjadi pejabat Wali Kota Palu hingga 17 Februari 2016.

Sejak 2016, melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Palu dan Wakil Wali Kota Palu, pasangan Hidayat-Sigit Purnomo Said keluar sebagai pemenag. Setelah meraih jumlah suara 54.895 atau 36,78 persen mengalahkan 3 pasangan lainnya, yakni Hadiyanto Rasyid-Wiwik Jumatul Rofi’ah dengan perolehan suara 40.483 atau 27,13 persen, pasangan Habsa Yanti Ponulele-Thamrin Samauna  perolehan suara 29.779 atau 19,95 persen serta pasangan Mulhanan Tombolotutu-Tahmidi Lasahido perolehan suara 24.082 atau 16,14 persen.

Hidayat-Sigit resmi menjabat sebagai Wali Kota Palu dan Wakil Wali Kota Palu (2016-2021), setelah dilantik Gubernur Sulteng, Longki Djanggola pada Rabu (17/2/2016).

GEOGRAFIS PALU

Kota Palu terletak memanjang dari timur ke barat di sebelah utara garis katulistiwa dalam koordinat 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT. Luas wilayahnya 395,06 km2 dan terletak di Teluk Palu dengan dikelilingi pegunungan.

Kota Palu terletak pada ketinggian 0 – 2500 m dari permukaan laut, dengan keadaan topografis datar hingga pegunungan. Sedangkan dataran rendah umumnya di sekitar pantai.HGA

Komentar

News Feed