oleh

Oknum Anggota DPRD Parmout Ditetapkan Sebagai Tersangka

SULTENG RAYA – Oknum anggota DPRD Parigi Moutong (Parmout), Wayan Murtama ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam kasus dugaan tindak pidana penggunaan ijazah palsu. Penetapan tersangka terhadap anggota dewan dari daerah pemilihan (dapil) III Parmout tersebut diketahui setelah adanya surat dari Polda Sulteng yang ditujukan kepada Ketua DPRD Parmout dengan Badan Kehormatan (BK) DPRD Parmout. Ketua BK DPRD Parmout, Drs H Suardi membenarkan penetapan tersangka terhadap Wayan Murtama berdasarkan surat tembusan yang diterimanya dari Polda Sulteng. Suardi menjelaskan, surat dari Polda tersebut bernomor B/905/2020/Ditreskrimum tanggal 24 Agustus 2020 dengan perihal, Penyampaian Penetapan Status Tersangka Anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong sdr. Wayan Murtama.

Dalam surat itu disebutkan, bahwa Subdit III Direktorat Reskrim Umum Polda Sulteng melakukan penyidikkan atas dugaan tindak pidana pemalsuan, dengan cara sdr. Wayan Murtama diduga telah menggunakan ijazah terakhirnya dalam hal ini ijazah yang diterbitkan oleh pihak SMA PGRI II Palu berupa, satu lembar Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SMA atas nama Wayan Murtama, dengan nomor seri No.24 OB.Oe 0375916, tanggal 25 Mei 1996.

Ijazah tersebut digunakan sebagai salah satu kelengkapan syarat untuk mengikuti pemilihan calon legislatif 2019 Kabupaten Parmout sebagai salah satu perwakilan dari DPC Perindo Kabupaten Parmout.

Baca Juga :   RRI Palu dan Pemda Parmout Kerjasama di Bidang Penyiaran

Diketahui bahwa saat ini oleh terlapor telah terpilih dan dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Parmout. Juga disebutkan surat tersebut, Wayan Murtama dijerat dengan pasal 264 KUHPidana, pasal 266 KUHPidana dan pasal 263 KUHPidana.

“Saya sebagai Ketua BK akan panggil yang bersangkutan di internal lembaga DPRD pada Senin (hari ini,red) untuk menyampaikan surat pemberitahuan penetapan statusnya sebagai tersangka. Hal ini juga sebagai jawaban kepada masyarakat bahwa kasus ini sudah kami proses secara internal,”ujar Suardi melalui ponsel, Sabtu (29/8/2020).

Sementara itu Wayan Murtama mengaku sudah mengetahui surat penetapan statusnya sebagai tersangka dari Sekretariat DPRD melalui pemberitahuan lewat WA. Dia menyatakan akan proaktif menjalani proses hukum tersebut sebagaimana yang sudah dijalaninya pada pemeriksaan sebelum dia ditetapkan sebagai tersangka.

Baca Juga :   RRI Palu dan Pemda Parmout Kerjasama di Bidang Penyiaran

“Saya ikut terus. Saya dipanggil datang.  Saya sudah beberapa kali datang di Polda. Kadang-kadang suratnya tidak sampai, tapi saya ditelepon saya hadir,” ujar Murtama melalui ponsel, Ahad (30/8/2020).

Namun demikian, dia membantah disebut menggunakan ijazah palsu.  Murtama mengaku hanya mengikuti mekanisme yang ditetapkan oleh pihak sekolah ketika mengikuti ujian persamaan dari SMA PGRI II Palu namun ujiannya dilaksanakan oleh SMA 4 Palu.

“Saya disitu waktu mau ikut ujian saya konsultasi dengan Pak Suryadi Kepala Sekolah SMA 4. Saya diterima disana, didaftarkan. Saya disuruh bayar SPP enam bulan. Habis itu saya dikasih nomor ujian. Habis itu saya ikut ujian, terus keluarlah ijazah saya. Nah sekarang ijazah saya dikatakan palsu, kan register ijazah saya ada di SMA PGRI kan. Terus saya ditetapkan sebagai tersangka, saya tidak pernah merasa memalsukan ijazah. Blangko saja saya tidak tahu. Itu kan blangko dari Dinas Pendidikan. Kalo misalnya prosedur yang dipersalahkan, saya tahu apa tentang prosedur. Saya tahunya Cuma ikut ujian, bayar SPP. Terus salah saya dimana?,”jelas Murtama.

Baca Juga :   RRI Palu dan Pemda Parmout Kerjasama di Bidang Penyiaran

Murtama menambahkan, jika proses ujian dianggap menyalahi prosedur, kenapa pihaknya diikutkan pada ujian tersebut. Murtama mengatakan dirinya hanya seorang petani kecil yang tidak tahu apa-apa, yang kebetulan saja ikut pemilihan legislatif dan terpilih sebagai anggota DPRD Parmout.

“Kalo saya tidak duduk, mungkin tidak ada kasus ini,”pungkasnya. AJI

Komentar

News Feed