oleh

Anak Desa Asal Poso Ciptakan Pesawat Rakitan Jenis Ultralight Kraf

SULTENG RAYA – Jika masa pendemi membuat sebagian orang lebih bayak vakum ketimbang beraktivitas, tidak bagi seorang Muhammad David, warga Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso.

Justru di masa pandemi Covid-19 ini, Ia mampu melahirkan karya yang membanggakan. Dia berhasil menciptakan pesawat rakitan jenis  ultralight kraf yang bahannya berasal dari barang bekas.

Kepada media ini, alumuni  SMA Negeri 1 Poso ini menceritakan, kalau ide awal menciptakan pesawat rakitan jenis  ultralight kraf terinspirasi dengan adanya kelompok pencinta pesawat jenis  ultralight kraf di Eropa. Dimana komunitas ini banyak merilis berbagai aktivitasnya di media youtube.

Tapi sebelumnya, Muhammad David sempat menciptakan sebuah helicopter rakitan yang terbuat dari mesin pemotong rumput. Namun, saat ingin menerbangkan atau melakukan uji coba, ternyata tidak diizinkan oleh pihak satgas Operasi Tinombala kala itu.

Baca Juga :   Unsimar Poso dan Untad Buka Pelatihan SKT dan SKA

Pasalnya jika diterbangkan akan mengganggu berbagai penerbangan pesawat atau helicopter yang sering melintas di udara wilayah Poso Pesisir.

Muhammad David atau akrab disapa Untung ini mengakui, awalnya dengan adanya pendemi, dirinya sempat resah. Pasalnya, sebagai montir keliling, otomatis dirinya tidak bisa berbuat banyak dalam mengais rezeki karena adanya pembatasan aktivitas. Tapi dengan sering membuka aplikasi di internet inilah, ia mendapat ide untuk menciptakan pesawat rakitan yang materialnya terbanyak dari bahan bekas.

Dimana jenis pesawat rakitan karya Muhammad David ini, mesinnya berasal dari mesin motor susuki satria dua tak, berkapasitas 120 CC dengan lebar sayap 8 meter, dimana setiap bentangan sayap memiliki berat mencapai 8 kg.

Baca Juga :   Unsimar Poso dan Untad Buka Pelatihan SKT dan SKA

Selain itu, berat rangka pesawat mencapai 16 kg, mesin dan ekor mencapai 96 kg. sehingga berat total pesawat mencapai 112 kg.

Menariknya, rangka ekor pesawat terbuat dari besi kalpanis tipis dan aluminium bekas Parabola. Hal ini sama halnya dengan rangka sayap. Untuk baling-baling, terbuat dari kayu cempaka dengan panjang bentangan baling-baling 1,15 meter.

Untuk kecepatan terbang, pesawat buatan Muhammad David ini bisa mencapai 30 – 40 KM per jam. Selain itu, kecepatan bisa ditambah tergantung cara pemakaian tekanan gas pesawat tersebut.

“Untuk kain sayap kami buat dari kain parasut bekas,” tambah Muhammad David.

Terkait karya besarnya itu, untuk saat ini Muhammad David mengaku kesulitan untuk melakukan uji terbang. Hal ini dibutuhkan landasan yang memang agak panjang.

Baca Juga :   Unsimar Poso dan Untad Buka Pelatihan SKT dan SKA

Olehnya, ia berharap ada pihak-pihak yang bisa membantu, terutama pihak bandara Kasiguncu Poso, untuk dapat mengizinkan landasannya digunakan sebagai media uji terbang pesawat rakitannya. SYM

 

Komentar

News Feed