oleh

Begini Sejarah Singkat Kedatangan Soekarno di Palu

SULTENG RAYA – Wali Kota Palu, Hidayat menjadi salah satu narasumber dalam acara webinar live aplikasi zoom bertajuk ‘Mutiara Pancasila di Bumi Tadulako’ diselenggarakan Badan Pembinaan Idologi Pancasila (BPIP) RI, Rabu (12/8/2020).

Pada kesempatan itu, Wali Kota Hidayat menyampaikan sejarah singkat kedatangan Presiden Pertama RI, Soekarno ke Kota Palu.

“Persitiwa kedatangan Presiden Soekarno terjadi pada 2 Oktober 1957 sila.  Beliau (Soekarno) mendarat di  Lapangan Udara Masovu (sekarang Bandara Mutiara SIS Aljufri, Red) dengan kawalan beberapa pesawat tempur milik AURI,” jelas Wali Kota Hidayat.    

Turun dari pesawat, kata Hidayat, Bung Karno bersama rombongan beristirahat sejenak di ruang tunggu bandara. Singkat cerita,  kata dia, pada kesempatan itulah  Bung Karno mengganti nama Lapangan Udara dari Masovu menjadi Mutiara

“Beliau mengganti nama bandara lantaran ketakjuban beliau melihat Palu dari udara yang tampak berkilau bak Mutiara,” ucapnya.

Baca Juga :   Personil Polres Palu Gowes dan Bagikan Sembako

Kunjungan tersebut disambut meriah masyarakat Palu dengan berbondong-bondong  datang ke lapangan Pacuan Kuda (saat ini  telah menjadi taman GOR). Tepat pukul  Pukul 10.00 Wita, Bung Besar, Presiden Pertama RI, Soekarno berorasi di atas Podium menghadap ke arah utara.  Isi pidato beliau mengajak untuk memerangi Permesta dan menjaga persatuan lewat kemerdekaan telah diproklamasikan pada 17 agustus 1945.

“Di sini (Taman GOR, Red), beliau mengadakan rapat umum dengan seluruh elemen masyarakat Kota Palu. Salah satu bagian pidato beliau mengatakan bahwa Palu ini ketika beliau lihat dari udara, Palu ini merupakan rangkaian mutiara,” katanya.

MAKNA FILOSOFI MUTIARA

Wali Kota Hidayat mengungkapkan, dirinya sejak lama, yakni sejak ia menjabat sebagai Kepala Balitbangda Provinsi Sulawesi Tengah, telah mencoba memaknai filosofi mutiara yang dilontarkan Soekarno, sehingga Palu disebut rangkaian mutiara.

Baca Juga :   Wisata Alam Adilah Garden Sambil Berolahraga

Ternyata, kata dia, ada dua makna filosofi rangkaian mutiara di Kota Palu. Pertama, ada rangkaian kehidupan sosial dan kedua ada rangkaian alam.

“Masyarakat Kaili (suku di Kota Palu) ini adalah masyarakat yang sangat tinggi toleransinya, masyarakat yang sangat tinggi rasa kekeluargaannya dan masyarakat yang sangat tinggi kegotongroyongannya,” ungkapnya.

Itulah yang coba dikembalikan oleh Pemerintah Kota Palu dengan diterapkan dalam berbagai program, sehingga hampir tidak ada lagi konflik-konflik sosial terjadi.

“InsyaAllah tidak ada lagi konflik-konflik sosial. Tetapi ingat ancaman-ancaman konflik itu masih terbuka luas. Kita perlu waspada,” pesannya.

Selanjutnya, kata dia, ada rangkaian alam. Kota Palu memiliki empat dimensi alam, yaitu dimensi gunung, bukit, teluk dan dimensi sungai membelah kota.

“Nah ini semua yang kita coba gali mutiara-mutiara yang ada di empat dimensi tadi. Ada Salena dan Hutan Kota Kaombona. Kita coba lakukan rekonstruksi kembali pantai, baru selesai kita bangun kita dilanda bencana. Nah, sungai kita sudah buat masterplannya, itu tinggal kita detailkan yang kurang lebih panjangnya sekitar 5 km,” katanya.

Baca Juga :   Warga Tinggede Aktifkan Pos Ronda

Sebagai perwujudan penghormatan sekaligus upaya mengenang sejarah kedatangan Sang Proklamator Kemerdekaan RI di Kota Palu, Pemkot telah membangun patung Bung Karno di Taman GOR Palu.

“Tinggi bangunan dasar patung yakni 2 meter menandakan tanggal 2, tinggi patung secara keseluruhan yakni 10 meter menandakan bulan 10 (Oktober), dan struktur dasar bangunannya 5×7 meter menandakan tahun 1957,” tuturnya.

Diketahui, acara webinar itu dipandu keynote speaker Wakil Kepala BPIP RI, Heriyono, Direktur Pengkajian Materi BPIP RI, Muhammad Sabri sebagai moderator. Sedangkan, narasumber lainnya, Sekretaris Dewan Pengarah BPIP RI, Wisnu Bawa Tenaya, Musisi Adie MS, Ketua GP Ansor Sulteng, Alamsyah Palenga.HGA

Komentar

News Feed