oleh

Tips Cuan Main Saham Saat Pandemi

SULTENG RAYA – Pandemi Covid-19 mengakibatkan sektor pasar modal atau jual beli saham merasakan dampak penurunan signifikan, baik transaksi maupun  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Bahkan, pada Maret 2020, IHSG anjlok 5 persen, menjadi penurunan tertinggi sejak 2016.  

Hal itu membuat para investor menahan belanja, bahkan calon investor yang baru belajar sekalipun, menahan diri masuk melantai di bursa saham. Kondisi itu berpengaruh negatif terhadap presentase nilai transaksi dan pertumbuhan jumlah investor bursa efek dan para sekuritasnya.

Akibatnya, edukasi dijalankan dengan orientasi memperbaiki grafik investor dan transaksi, terkesan ‘mubazir’. Namun, masih ada asa bagi para investor sudah terlanjur terjun di pasar modal.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Sulawesi Tengah, Dendy Faizal Amin, membagikan tips bagi investor, khusunya di Sulteng agar tetap untung saat bertransaksi.

Menurut Dendy, pada masa pandemi, investor sebaiknya melakukan analisis fundamental terhadap harga saham dan kondisi perusahaan yang ingin dibeli sahamnya. Valuasi dari sebuah perusahaan dipantau, tetap berproduksi dengan normal atau menurunkan nominal barang yang diproduksi.

“Beli saham yang valuasinya bagus, bisa dilihat dari laporan keuangan, cara paling simple sebenarnya yaitu dengan melihat apakah bisnis atau operasional perusahaan tersebut terganggu selama pandemi,” katanya kepada Sulteng Raya, Selasa (30/6/2020).

Disamping itu, menurutnya, harus mempertimbangkan kondisi perusahaan dari aspek pengurangan tenaga kerja baik dari media massa atau media lainnya untuk mengetahui konstalasi perusahaan ditengah pandemi. Jika beberapa hal tersebut terjadi, maka sebaiknya investor menahan belanja dan beralih kepada perusahaan lain dengan analisis yang sama.

“Adanya pembatasan operasional atau pengurangan karyawan? jika tidak itu bisa dikatakan bahwa perusahaan itu bisa survive meskipun ditengah pandemi, artinya masyarakat tetap membutuhkan produk dari perusahaan tersebut. Dengan begitu, saham mereka pasti normal dan terus bergerak, bahkan kalau produk mereka sangat dibutuhkan, bisa jadi bakal lebih naik. Kita bisa untuk dari sisi itu. Contoh perusahaan obat-obatan, rokok dan lainnya,” tuturnya. RHT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed