oleh

Aptisi Sulteng: Jangan Bebankan Biaya Rapid Test dan Swab Test ke Mahasiswa

SULTENG RAYA- Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Sulteng, Burhanuddin Andi Masse, minta kepada Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, sekaligus selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Sulawesi Tengah untuk menyurat ke walikota Palu agar dapat mempermudah mahasiswa yang berasal dari kabupaten masuk ke Kota Palu.

Begitujuga agar berkenan menyurat ke setiap bupati di Sulawesi Tengah untuk menggratiskan biaya Rapid Test dan Swab Test bagi mahasiswa untuk mendapatkan surat keterangan bebas covid keperluan masuk ke Kota Palu.

Karena sejak diberlakukannya pemeriksaan diperbatasan, tidak sedikit mahasiswa tidak dapat masuk ke dalam Kota Palu hanya karena tidak mengantongi surat keterangan bebas covid dari hasil pemeriksaan Rapid Test dan Swab Test.

Perlu dipahami kata Burhanuddin, mahasiswa tidak mengantongi surat keterangan bebas covid tersebut, bukan berarti mereka tidak mendapatkan informasi adanya pemeriksaan surat keterangan jika ingin masuk dalam Kota Palu, namun karena bisa saja terkendala biaya.

Karena untuk mendapatkan surat tersebut, harus mengeluarkan biaya paling tidak Rp300 ribu. “Tidak semua masyarakat kita itu kondisi ekonomi bagus, sudah syukur jika ada anak dari kabupaten yang tinggalnya di desa-desa mau kuliah di Kota Palu,”ungkap Burhanuddin. Kamis (11/6/2020).

Apalagi katanya, dengan kondisi covid saat ini sudah dipastikan jika semua masyarakat mengalami penurunan ekonomi, belum lagi kondisi masyarakat petani dan nelayan yang penghasilannya dinamis, terlebih jika pekerjaannya adalah pekerjaan harian seperti tukang yang banyak kehilangan pekerjaan akibat covid-19.

Sementara mahasiswa dalam waktu dekat akan menghadapi ujian semester, dan menjelang penerapan New Normal di kampus. “Saya perkirakan jumlah mahasiswa di Kota Palu ini dari daerah itu 150 ribu orang, tersebar di semua perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Kota Palu, ini yang mau masuk, mohon ini dipermudah, karena tidak semua mereka itu dari kalangan orang mampu dari segi ekonomi,”harap Burhanuddin.

Belum lagi saat ini adalah masa-masa pembukaan penerimaan mahasiswa baru, sekalipun banyak kampus yang sudah menerapkan penerimaan mahasiswa baru melalui daring atau online, namun paling tidak calon mahasiswa baru itu tentu juga ingin melihat kondisi kampus yang akan menjadi tempat mereka menuntut ilmu.

“Saya tentu memahami betul tujuan dari pemerintah memperketat pengawasan di perbatasan, namun mohon kiranya sekali lagi jangan dibebankan biayanya ke mahasiswa dalam hal ini biaya pemeriksaan Rapid Test dan Swab Test, karena itu membebani mereka secara ekonomi, ini adalah anak bangsa yang ingin menuntut ilmu, kiranya ini bisa dipahami oleh pemerintah dalam hal ini Gubernur Sulteng dan para bupati dan walikota,”harap Burhanuddin.  ENG

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed