oleh

Penyintas Bencana Berharap Kehadiran Negara Ditengah Pandemi Covid-19

-Kota Palu-187 views

CITIZEN JOURNALISM
Oleh : Fardilla / Jurnalis Warga Mamboro

PALU – Sudah dua bulan lebih penyintas bencana di Hunian Sementara (Huntara) hanya bisa
berdiam diri dan tak bisa berbuat apa-apa, karena pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menerapkan social distancing. Sebagian besar warga penyintas akhirnya kehilangan mata pencaharian.

Ditengah pandemi covid-19, penyintas kesulitasn untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama untuk kebutuhan pangan. Namun banyak dermawan yang datang membawakan mereka bantuan berupa sembako maupun uang tunai.

Mulai dari partai politik, Lembawa Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi masyarakat datang memberika sedikit perhatian kepada para penyitas agar mereka bisa terus bertahan hidup ditengah bencana Kesehatan covid-19.

Sayangnya, selama itu, pemerintah seakan tak pernah hadir ditenga-tengah penyintas.

“jangankan memberikan bantuan sembako apalagi uang tunai, memberikan sosialisasi kepada pengungsi tentang covid-19 saja tidak pernah. Jatah hidup pasca bencana alam saja sampai sekarang tidak jelas, apalagi bantuan selama corona. Kami lebih banyak dibantu oleh dermawan,” kata Nia salah satu pengungsi di huntara Mamboro, Palu Selatan.

Baca Juga :   Hari ini, KPU Kota Palu Laksanakan Debat Kandidat

Nia mengungkapkan bahwa karena kondisi yang semakin sulit di Huntara, warga sempat mendatangi kantor dinas sosial kota Palu untuk meminta bantuan sembako. Namun dari pihak dinas mengatakan bantuan untuk warga di huntara bisa diberikan setelah kota Palu telah ditetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah.

Nia bersama warga lain di huntara Mamboro berharap kehadiran negara ditengah wabah covid-19, bukan hanya sekedar memikirkan keberlangsungan hidup para penyintas, namun layanan Kesehatan bagi penyintas agar tidak tertular virus corona. Seperti penyemprotan disinfektan, penyediaan fasilitas mencuci tangan, dan pembagian masker gratis bagi penyintas.

“Selama ini yang datang ke huntara untuk membantu penyintas seperti melakukan penyeprotan disinfektan, pemberian fasilitas mencuci tangan dan masker hanya dari LSM dan partai politik. Dari peremerintah sampai saat ini tidak ada, hanya janji-janji terus,” kata Nia.

Baca Juga :   Dari Sumatera ke Palu Bawa 7,3 Kg Sabu

Hal yang sama diaungkapkan Sritini Haris, salah satu penyintas di Huntara Talise yang mengungkapkan bahwa keberadaan penyintas di huntara sangat memprihatinkan, terutama yang berkatan dengan kondisi ekonomi.

“Kami di huntara jadi serba salah. Disatu sisi kita dilarang keluar rumah, tapi kalau kita berdiam didalam rumah apa yang mau dimakan,” kata Sritini.

Menurunya, hak-hak dasar penyintas seharusnya dipenuhi, seperti kebutuhan dasar perempuan dan anak. Tapi kenyataannya hingga sampai saat ini tidak ada, bahkan untuk memberikan penyuluhaan Kesehatan tentang covid-19 di huntara tidak perbah dilakukan, padahal Huntara sangat rentan penularan covid-19.

Warga di huntara lanjut Sritini, butuh kejelasan dari pemerintah terkait bantuan untuk korban bencana yang masih tinggal di tenda pengusian maupun huntara. Negara harus hadir demi keberlangsungan hidup para penyintas yang masih berjuang untuk memulihakan kondisi pasca bencana alam ditengah pandemic covid-19.

“Bantuan untuk warga korban bencana hanya surga telinga. Jatah hidup tidak ada, santunan duka tidak ada, ini lagi bantuan langsung tunai tidak jelas ada atau tidak,” ujarnya.

Baca Juga :   Smelter Nikel Bakal Dibangun di KEK Palu

Menanggapi keluhan para penyintas, Kepala Bidang (Kabid) perlindungan sosial masyarakat, Dinas Sosial Kota Palu, Diana Patalau mengatakan jatah hidup untuk korban bencana di kota Palu untuk saat ini tidak ada lagi, sementara untuk santuna duka sampai saat ini masih menunggu pencairan setelah dibuka blokir bantuan sosial di kemeterian social RI.

Diana menambahkan bahwa untuk penyintas bencana di Huntara selama covid-19, pemerintah kota Palu telah mengakomodir dan menyusun dalam anggaran di Dinas Sosial Kota Palu bantuan sembako untuk 26 ribu jiwa warga yang tingga di huntara.
Menurutnya, bantuan sembako penyitas di Huntara bisa di serahkan setelah ada kebijakan PSBB di Kota Palu.

“Ketika PSBB dikeluarkan, dinas social siap mendistribusikan sembako bagi seluruh penyintas yang tinggal huntara,” kata Diana.***

Komentar

News Feed