oleh

Rafiuddin : Tiga Kendala Dunia Pendidikan di PT

SULTENG RAYA-Melihat kulitas pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) di tanah air dan membandingkan kualitasnya dengan negara-negar luar,  ditemukan kulitas pendidikan Indonesia masih sangat jauh tertinggal, jangankan dunia internasional, kalangan negara-negara Asia saja Indonesia masih pada posisi deretan bawah.

Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Palu, Dr Rafiuddin Nurdin  mencoba menguraikan penyebab rendahnya kualitas pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia secara umum.

Menurutnya, paling tidak ada tiga penyebabnya, pertama metode pembelajaran dan kurikulum perguruan tinggi di Indoensia masih bersifat monoton, masih bersifat lokal dan nasional. Sementara kalau perguruan tinggi luar negeri sudah bersifat komprehensif, lebih pada melihat kebutuhan pasar.

Sementara di era 4.0 dan kini menuju 5.0, era dimana orentasinya lebih pada memenuhi kebutuhan pasar, khususnya industry, sehingga metode yang digunakan memang harus berubah dari segala sisi, mulai dari pembelajarannya hingga pada kurikulum yang digunakan. Jika tidak ingin berubah, pasti tertinggal jauh.

Persoalan kedua adalah ada pada Tri Dharma secara umum dan Catur Dharma pada perguruan tinggi Muhammadiyah, masih terpaku pada dharma pertama yakni pendidikan dan pengajaran.

Padahal katanya, jika berbicara pada Tri Dharma terdapat tiga Dharma yakni Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian. Dharma kedua dan ketiga inilah yang kerap diabaikan dan masih sangat rendah penerapannya.

“Masih fokus bagaimana mentranformasikan pengetahuan itu melalui dharma pertama. Sementara penelitian dalam rangka untuk menemukan inovasi masih sangat rendah, begitu juga dengan pengabdian. Jikapun ada pengabdian, masih sangat monoton, paling tidak hanya pada saat KKN,”jelas warek 1 Unismuh Palu ini. Selasa (5/5/2020).

Persoalan ketiga adalah network (jaringan), ini juga yang masih sangat terbatas, sekalipun sudah ada beberapa perguruan tinggi khususnya di Pulau Jawa yang sudah memiliki jaringan skala global. Namun untuk perguruan tinggi yang ada di daerah-daerah lainnya di luar pulau Jawa, khususnya Indonesia bagian Timur masih sangat terbatas.

Begitujuga dengan Indonesia bangian barat, sehingga secara keseluruhan jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya, jaringan perguruan tinggi Indonesia masih sangat jauh tertinggal.

“Jaringan kita (Perguruan Tinggi) masih terpola pada kerjasama lokal, regional dan nasional, sementara dalam konteks di era globalisasi memang harus saling bersinggungan dan bersinergi dengan seluruh dunia internasional,”jelasnya.

Untuk itu katanya, saatnya perguruan tinggi Indonesia belajar membuka jaringan seluas-luasnya, dengan begitu nanti akan diakomodir untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat internasional yang menunjang akademik. Melalui itu ada keuntungan besar bagi perguruan tinggi, terlebih bagi mahasiswa dalam hal wawasan dan kompetensinya.

“Jika tiga hal itu, pertama merubah metode dan kurikum berbasis kebutuhan industry dan pasar, merealisasikan tuntutan Tri Dharma secara paripurna, dan terakhir memperluas jaringan, yakinlah kualitas pendidikan kita khususnya perguruan tinggi akan menyamai dengan kualitas luaran luar negeri, karena secara skala umum, kendalanya di situ,”ungkap warek. ENG

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed