oleh

Kasman: Hardiknas Semestinya Jadi Refleksi Dunia Pendididikan Nasional

SULTENG RAYA- Setiap tanggal 2 Mei, negeri ini, memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), saat itu semestinya melakukan refleksi, membuka diri, membuka lembaran-lembaran capaian pendidikan dan seperti apa produk pendidikan di negeri ini.

Menteri Pendidik dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim membuat kebijakan baru yang dikenal dengan Merdeka Belajar. Maksud dari merdeka belajar ala Menteri melenial itu adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diganti dengan ujian (asesmen) yang diselenggarakan hanya oleh sekolah  dan ujian dilakukan untuk menilai kompetensi siswa.

Ujian Nasional (UN) diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Baginya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama ini, kaku, kedepanya guru akan bebas memilih, membuat, menggunakan dan mengembangkan format RPP-nya sendiri. Demikian halnya Sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)  akan lebih fleksibel, untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah dan daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi. 

Namun bagi akademisi Universitas Alkhairaat Palu, Dr Kasman Jaya Saad, tanpa bermaksud mempersoalkan kebijakan menteri melenial itu, yang menjadi persoalan dinegeri ini katanya adalah komitmen kepatuhan dalam menjalankan kebijakan dan program, karena saat ini baru sekadar fokus pada administrasinya..

“Saya tak bermaksud untuk mempersoalkan kebijakan pak menteri yang milenial ini, namun lebih ingin mengingatkan bahwa sebagai bagian produk pendidikan negeri ini, kita masih kehilangan komitmen dan kepatuhan,”ungkapnya. Ahad (3/5/2020).

Katanya, banyak program yang telah ditelorkan para pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini, namun miskin komitmen dan kepatuhan para pelakunya. Pelaku pendidikan masih terjebak pada sistem administrasi pendidikan, ketentuan-ketentuan birokrasi, akreditasi, nilai dan ujian, serta sibuk menyiapkan berkas ini dan itu. Dan itu sudah menjadi tujuan bahkan menjadi prioritas. Kita tak mampu membedakan mana cara dan tujuan, sehingga cara dijadikan tujuan.

Seharusnya katanya, merdeka belajar, harus dimaknai pada pemahaman akan pentingnya komitmen dan kepatuhan itu dalam diri seseorang, dan belajar bagaimana komitmen dan kepatuhan para leluhur, para orang tua dahulu mempraktekkannya.

Bagaimana mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan yang diperolehnya dalam dunia pendidikan.  Mereka memaknai pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi sesama.

Para leluhur bangsa ini takpernah berpikir jalan pintas (shortcut) untuk mencapai sesuatu, termasuk dalam memperoleh pendidikan. Tak seperti anak negeri sekarang ini, jalan pintas menjadi kegemaran. Demi selembar ijazah, segala cara dilakukan, tak peduli itu melanggar aturan dan etika akademik. “Tradisi umat manusia untuk mempertahankan eksistensi mereka melalui pendidikan mendapat tantangan, karena pendidikan ternyata bagi sebagian kita dapat digunakan untuk mengakumulasi capital dan mendapatkan keuntungan,” katanya mencoba menguraikan permasalahan pendidikan di negeri ini.

Katanya, para leluhur bangsa ini “mungkin” tak terlalu pandai berdebat dan bersilat lidah,  namun mereka istiqomah dalam kata dan perbuatannya. Mereka juga hidup bersahaja. Tidak serakah. Mereka sangat menjaga hidupnya agar dipenuhi berkah, itu sebab tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Hidup sederhana selalu dipertontonkan. Buah dari pendidikan yang diperolehnya tak sekedar dinikmati sendiri namun benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan kesehariannya.Komitmen dan kepatuhan itu begitu membumi dalam setiap gerak lakunya.  “Tak seperti kita, begitu membanggakan diri orang yang berpendidikan tapi miskin komitmen dan kepatuhan,”ungkapnya.

Mereka para leluhur, juga menjadikan kejujuran dan ucapan yang benar sebagai pagar kehidupannya. Tak akan berani melakukan kebohongan. Dan itu tertanam dalam benaknya.  Mereka tak kompromi bila ada sesuatu tak sesuai aturan. Sikapnya tegas dalam kata, teguh dalam perbuatan, teguh dalam komitmen.  “Dan itu tak lazim ditemukan sekarang, kita sebagai produk pendidikan kini,  yang sering terjadi adalah omongan dengan perbuatan saling bertolak belakang.   Kebohongan berseliweran, menjadi santapan keseharian di dunia pendidikan dan menjadikan pendidikan tak punya daya magis lagi,”urainya.

Padahal pendidikan menyimpan kekuatan luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek kehidupan dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan yang terjadi. Itu sebab pendidikan tak sekadar merdeka belajar, namun juga penting bagaimana belajar berkomitmen. Belajar mematuhi yang telah disepakati. Sembari terus berharap kita dapat memberi keteladanan, memberi sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh, tentang kelakuhan, perbuatan, sifat dan citra diri dalam kehidupan, agar pendidikan  sungguh-sungguh dapat menjadi faktor pendorong bagi kemajuan peradaban umat manusia. ENG

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed