oleh

Bulog Sulteng Pertimbangkan Serap Gabah Petani

SULTENG RAYA – Perusahaan Umum (Perum) Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Sulawesi Tengah mempertimbangkan untuk menyerap gabah petani lokal.

Hal tersebut mengakomodasi instruksi Dirut Bulog, Budi Waseso yang menekankan optimalisasi penyerapan gabah petani untuk diolah menjadi beras premium.

“Bulog di perintahkan oleh pak dirut, maunya 100 persen kita pengadaan gabah. Di Sulteng sendiri masih dipertimbangkan, kalau memungkinkan gabah, ya gabah. Terus kami melapor, jadi semuanya akan kesana nantinya,” tutur Kepala Bulog Kanwil Sulteng, Miftahul Ulum kepada Sulteng Raya melalui gawai, Ahad (22/3/2020).

Miftahul Ulum mengatakan, ada potensi untuk menyerap gabah petani. Sebab, Bulog sendiri bisa melakukan pengolahan dengan metode bermitra dengan stakeholder.

“Kan ada penggilingan kita yang diolah mitra, penggilingan sendiri juga kita punya di Sulteng. Di Palu ada satu, Olaya (Kabupaten Parigi Moutong) ada. Nanti kalau misalnya kita nggak mencukupi, bisa kerja sama itu tadi. Mitra yang ada di Palu dan daerah lain,” ucapnya.

Menurutnya, fasilitas yang dimiliki di Sulteng sangat memadai sehingga tidak menutup kemungkinan hal itu dapat terealisasi dalam waktu dekat.

“Itu penggilingannya lumayan memadai, seperti di Tolitoli, Luwuk. Kita nanti bisa beli gabah,” tutur Miftahul Ulum.

 

DIOLAH JADI  BERAS PREMIUM

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan akan melakukan penyerapan gabah petani dalam bentuk gabah seutuhnya dan tidak lagi menyerap beras siap konsumsi dari petani. Gabah tersebut akan diolah menjadi premium untuk memperkuat daya saing beras Bulog di pasar bebas.

“Kita akan serap sebanyak mungkin dan kita olah menjadi beras premium. Next, Bulog tidak lagi memproduksi beras medium,” kata Buwas, sapaan akrabnya, di gedung Kemenko Perekonomian, Rabu (11/3/2020).

Buwas mengatakan, beras medium Bulog selama ini kerap menjadi biang masalah. Kualitasnya yang dinilai kurang baik oleh publik dimanfaatkan oleh oknum mafia beras. Tujuannya untuk melemahkan daya saing beras Bulog. Bahkan, kata Buwas, ada yang mengoplos beras medium bulog dengan beras lainnya yang berkualitas buruk.

“Dari pengalaman yang sudah-sudah, Bulog hanya akan produksi beras premium,” ujar Buwas.

Namun, sebelum itu, Buwas mengatakan bahwa Bulog terlebih dahulu harus menghabiskan stok beras medium yang masih tersimpan di gudang. Adapun total stok beras Bulog di seluruh gudang yang tersebar di Indonesia sebanyak 1,5 juta ton. Beras itu akan dihabiskan melalui kegiatan operasi pasar dalam menyambut bulan puasa.

Hingga saat ini, kata Buwas, pihaknya masih fokus untuk mempercepat penjualan beras Bulog di gudang. Tujuannya agar kapasitas gudang untuk menyimpan gabah baru dari petani bisa ikut besar. Makin banyak beras yang keluar, makin besar gabah yang bisa diserap oleh Bulog.

Harga penyerapan gabah petani, kata Buwas, sesuai aturan pemerintah adalah Rp 3.700 per kilogram hingga Rp 4.070 per kilogram. “Jadi, sekarang mau panen raya. Nah, ini kan banyak, tentu hasilnya melimpah. Harganya juga pasti akan jadi rendah. Jadi, harga pemerintah masih bisa dipakai,” ujarnya.

Soal berapa banyak gabah yang bisa diserap Bulog, Buwas enggan memastikan. Pasalnya, pihaknya masih harus melihat perkembangan situasi panen di setiap sentra beras sekaligus pergerakan harga di tiap-tiap daerah.

“Dari total jumlah gabah yang dipanen, minimal 10 persen kita bisa serap. Minimal,” ujarnya. RHT/ROL

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed