oleh

Sulteng Butuh Peran Koperasi Sektor Riil

SULTENG RAYA – Badan Pusat Statistik baru saja merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) Sulteng per Februari 2020.

Data tersebut menunjukkan angka 97,43 persen, artinya petani masih mengeluarkan lebih banyak biaya produksi dibandingkan dengan hasil diterima ketika melakukan panen.

Kondisi itu diindikasikan kurang maksimalnya penyerapan di tingkat pedagang besar. Rerata, para petani dinilai hanya menjual kepada tengkulak dengan tingkat harga sangat murah.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng harus berupaya melakukan berbagai langkah strategis untuk memaksmalkan penyerapan dengan harga paling tinggi di tingkat petani. Salah satunya dengan mendorong koperasi sektor riil untuk dibentuk yang berkosentrasi kepada penyerapan komoditi beras dengan standar harga mengacu kepada anjuran pemerintah.

“Terkait rekomendasi-rekomendasi, dari beberapa pemaparan, kami akan berupaya melakukan langkah strategis untuk memaksimalkan itu (pendapatan petani). Dinas koperasi akan didorong, memaksimalkan peran koperasi. Koperasi bisa menampung itudengan harga yang wajar atau standar. Nanti akan kami sampaikan,” kata Kepala Biro Perekonomian dan Pembangunan, Rudi Dewanto dalam video conferences (vicon) data strategis bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS Sulteng, di Jalan Muhammad Yamin, Kota Palu, Senin (2/3/2020).

Ia menambahkan, bukan hanya sektor komoditi beras yang akan jadi perhatian. Berdasarkan data tersebut, Pemerintah akan berupaya mendorong kebijakan strategis sektor lain seperti perikanan dan perkebunan.

“Ini banyak, proses akan kami upayakan. Kita memerlukan sinergitas yang kuat dari lintas sektor, Bulog juga kami minta demikian untuk berkomitmen menyerap hasil petani,” katanya. RHT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed