oleh

Masyarakat Perlu Konsumsi Pangan Lain

SULTENG RAYA – Pemerintah Sulawesi Tengah melalui Dinas Pangan Sulteng mendorong masyarakat untuk tidak terlalu tergantung dengan beras.

Hal itu untuk mencegah peningkatan konsumsi makin hari makin banyak. Kebiasaan itu dinilai kurang tepat, karena masih banyak pangan pengganti nasi tidak kalah nutrisinya masih perlu digenjot tingkat konsumsinya.

Analis Kebijakan Ketahanan Pangan Dinas Pangan Sulteng, Daniel Eduard mengatakan, mengkonsumsi nasi memang jadi kebutuhan utama, namun jika terlalu sering, kadar gula nasi dinilai cukup memicu peng-konsumsi terkena diabetes.

Program dari Dinas Pangan yang digalakkan untuk menghindari hal tersebut yakni mencoba mengubah mindset masyarakat, mencoba makanan pokok lain seperti umbi-umbian. Pengurangan konsumsi beras juga dinilai akan sangat berdampak terhadap menurunnya konsumsi yang berimplikasi terhadap terjaganya cadangan beras daerah.

“Saya ingatkan dari kami sendiri (Dinas Pangan), kita berpikir bahwa kita masih memiliki konsumsi beras yang tinggi, itu jadi soal juga. Ini yang perlu disosialisasikan karena konsumsi beras yang tinggi akan menyebabkan diabetes. Kita mensosialisasikan penurunan konsumsi beras, untuk meningkatkan ketahanan pangan. Bukan hanya pada beras, tapi kita punya pangan lokal yang cukup yang sumber karbohidratnya begitu banyak, tetapi kita tinggalkan itu seperti umbi-umbian,” kata Daniel Eduard pada video conferences (vicon) data strategis bulanan Badan Pusat Statistik (BPS) di kantor BPS Sulteng Jalan Muhammad Yamin Kota Palu, Senin (2/3/2020).

Menurutnya, selain beberapa hal itu, dengan mengkonsumsi makanan pokok selain beras secara tidak langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada sektor pangan lain itu, serta petani non-padi juga akan menerima dampak dengan peningkatan kesejahteran dan mendapatkan pangsa pasar mereka.

 

“Pola konsumsi harus kita ubah, banyak pangan lain. Kita cukup kaya, ini yang kurang jadi prioritas, kita hanya masih fokus pada beras. Karena semua berfikir kalau belum makan nasi berarti belum makan, itu soal. Padahal ada sisi negatifnya. Penting kembali ke pangan lokal supaya lebih sehat, cerdas dan produktif,” katanya.

Meski demikian, pihaknya juga cukup apresiasi dengan tingkat produksi beras di Sulteng. Pascabencana bahkan produksi dikatakannya mengalami surplus. Apalagi, kata dia, perbaikan-perbaikan fasilitas pertanian di sejumlah sentra serapan dan produksi beras juga terus dilakukan sehingga ada prospek cerah kedepan.

“Peningkatan produksi yang dilakukan untuk menunjang ketahanan pangan di Sulteng. Kita tahun Sulteng surplus dalam hal beras, cukup. Dengan gebrakan  yang dilakukan terus menerus saya melihat bahwa kedepan akan meningkat produksi, apalagi  dengan perbaikan irigasi di Sigi yang mengairi 7.000 hektar, saya kira akan maikn naik,” ungkapnya. RHT

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed