oleh

LL Dikti Dorong Unismuh Palu Buka Usaha

SULTENG RAYA- Koordinator Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah IX Sulawesi, Prof Dr Jasruddin, mendorong kampus biru Unismuh Palu  membuka usaha, agar tidak menjadikan SPP mahasiswa sebagai satu-satunya sumber penghasilan kampus.

Jika terus menerus menjadikan SPP mahasiswa sebagai sumber satu-satunya penghasilan kampus, dipastikan akan mati. Karena sudah menjadi rahasia umum, beban pembiayaan kampus terus menerus meningkat, mulai dari beban gaji dosen dan pegawai, operasional, ATK dan sebagainya, sementara rekrutmen mahasiswa baru tidak menjamin selalu banyak.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tidak mendapatkan prioritas bantuan keuangan dari pemerintah sebagaimana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mendapatkan bagian dari APBN. “PTN saja saat ini berusaha menjadi perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) untuk alih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), agar bisa membuka usaha,”ungkap Prof Dr Jasruddin, saat berkunjung di Kampus Unismuh Palu, awal pekan ini.

Sekadar diketahui, bahwa Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH) adalah perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom, dan pada dasarnya PTN ini adalah PTN yang telah diberikan otonomi penuh dalam pengelolaan kampusnya.

Adapun otonomi yang dimaksud adalah otonomi akademik meliputi penetapan norma, kebijakan operasional, dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sedangkan otonomi non-akademik meliputi organisasi, kemahasiswaan, ketenagaan, keuangan dan sarana dan prasarana.

Dengan status PTN-BH, kampus memiliki banyak keleluasaan dalam pengelolaannya.  Kampus diberi hak untuk menentukan besaran biaya pendidikan yang ditanggung mahasiswa (SPP/UKT), membuka dan menutup jurusan, fakultas atau prodi, mengangkat dan memberhentikan dosen serta kampus diberi keleluasaan untuk membuka usaha atau pemanfaatan aset dan dapat bekerjasama dengan pihak luar. Dari hal tersebut, banyak PTN yang berlomba-lomba untuk menjadi PTN-BH.

Sebenarnya, keistimewaan-keistimewaan tersebut kata Prof Jasruddin sudah dimiliki oleh PTS, namun sayang keistimewaan itu tidak dimanfaatkan karena terlalu memanjakan diri dengan ketergantungan dari SPP mahasiswa. “Wakil Rektor 2, sudah harus memikirkan itu, bikin usaha jangan lagi mau ketergantungan dengan SPP mahasiswa, karena itu kecil dan tidak cukup, kalau mau enak bikin usaha, kelolah sendiri,”ajak Prof Jasruddin.

Katanya lagi, dosen yang kurang jam mengajar dorong melakukan penelitian dan mengelolah unit-unit kewirausahaan kampus. Jika ini bisa berjalan dengan baik dipastikan tidak akan kesulitan dalam hal pembiayaan, termasuk kesejahteraan dosen dan pegawai.

Di tempat yang sama, Rektor Unismuh Palu, Dr Rajindra SE, MM, menguraikan jika dirinya saat ini sudah mulai melirik usaha, agar tidak lagi menjadikan SPP mahasiswa sebagai satu-satunya sumber penghasilan kampus, dengan membentuk unit usaha.

Bahkan gedung Islamic Center yang dimiliki kampus ini telah dibuka untuk disewa gunakan berbagai kegiatan, termasuk hajatan pernikahan, seminar, FGD, simposum dan sebagainya, dengan fasilitas yang cukup lengkap termasuk ruang parkir yang luas.

Begitu juga dengan hutan pendidikan yang dimiliki kampus biru ini seluas 5.100 hektare yang berlokasi di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi meliputi 11 desa, dapat dikelolah menjadi salah satu sumber penghasilan. “Insyah Allah, itu akan kami kelolah, apa yang disampaikan Pak Prof itu betul sekali, tentu itu akan menjadi perhatian kita,”ungkap Rektor. ENG

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed