oleh

Disperdagin Lirik Bahan Jadi Berbahan Dasar Kelor

SULTENG RAYA – Kelor merupakan salah satu tumbuhan yang mudah ditemukan di daerah Kota Palu. Sayangnya, pengolahan tumbuhan kelor masih belum optimal.

Padahal, tumbuhan kelor sebagai kearifan lokal merupakan sangat potensi dikembangkan. Bahkan, olahan berbahan baku daun kelor di Kota Palu sudah pernah dicatatkan dalam penghargaan museum rekor dunia Indonesia atau MURI pada Desember 2016 lalu.

Kala itu, penghargaan diberikan kepada  Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI) Sulteng yang telah berhasil melaksanakan Festival bertajuk ‘kelor mendunia’ dan menghasilkan 182 resep makanan dan minuman berbahan baku kelor terbanyak di dunia.

Melihat kondisi itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Palu, Syamsul Saifudin, mengatakan, pihaknya kini berupaya untuk mengembangkan tidak hanya sebatas pada olahan makanan siap saji, melainkan menjadikan kelor sebagai bahan dasar pembuatan tepung.

Bahkan, ia menargetkan bahan jadi berbahan dasar kelor tersebut dapat menjadi salah satu produk lokal untuk diekspor. Harapannya, pengembangan itu mampu medongkrak pendapatan daerah Kota Palu.

“Salah satu kearifan lokal direncanakan diekspor keluar kota  di tahun 2020, yaitu kelor yang diolah menjadi bahan jadi berupa tepung kelor,” kata Syamsul Saifudin kepada Sulteng Raya, Jumat (10/1/2020).

Menurutnya, berdasarkan hasil observasi lapangan, terdapat sejumlah kendala mengakibatkan kelor belum termanfaatkan secara optimal.

Pertama, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang mempuni, sehingga produk yang dihasilkan belum memenuhi standar internasional. Untuk itu, sebelum merealisasikan rencana tersebut, pihaknya bakal berupaya meningkatkan SDM mengolah hasil alam menjadi bahan jadi siap ekspor.

“Faktanya sekarang, dalam urusan ekspor bahan jadi keluar kota, Sulteng masih terbilang sangat rendah dalam hal tersebut. Mengapa? Karena, pengelolaan kearifan lokal tidak sesuai dengan standar atau syarat internasional yang menjadi ketentuan dilakukannya ekspor,” ucapnya.

Ia mengatakan, standar atau syarat agar dapat dilakukan ekspor, harus memperhatikan kualitas produk, yakni mulai dari proses penanaman, hingga proses pengelolaannya terarah dan menghasilkan produk layak ekspor.

“Untuk menghasilkan produk berkualitas, pastinya harus didukung dengan SDM yang bertanggung jawab, pantang menyerah dan mau belajar cara menghasilkan produk bahan jadi sesuai standar ditentukan,” jelasnya.

Kedua, kata Syamsul, pengelolaan dan pengolahan kearifan lokal di Sulteng masih terkendala kurangnya peralatan canggih untuk memenuhi standar ekspor.

“Alat pengelolaan bahan memang masih kurang, sehingga masih ada yang mengunakan cara tradisional atau membuat alat pengelolaan sendiri dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Namun, Disperdagin akan berusaha untuk membantu dan mendukung, dengan mencoba menyediakan alat pengelolaan,” jelasnya.

Selain kelor, Disperdagin Kota Palu juga kini terus berupaya mengembangkan produk barang jadi berbahan dasar rotan. Karena, Kota Palu juga memiliki persediaan yang masih sangat mendukung untuk pengembangan rotan.

“Selain itu, ada pula rotan yang hingga kini dalam proses  pengembangan  produk agar dapat mengahsilkan barang jadi yang berkualitas. Ke depan, bukan hanya kelor dan rotan yang akan diolah sesuai dengan standar internasional, namun kearifan lokal lainnya akan diusahakan untuk dikembangkan,” tuturnya. ULU

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed