oleh

BBTNLL Akan Kembangkan Sanctuary Maleo di Kadidia

SULTENG RAYA – Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) menyelenggarakan Seminar Akhir Pekerjaan Jasa Konsultan Feasibility Study  (FS) & Detail Engineering Design (DED) Pembinaan Sanctuary Maleo yang ada Desa Kadidia, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.

Seminar akhir FS & DED yang dipusatkan di Kantor BBTNLL Jalan Belibis Kota Palu, Selasa (10/12/2019) tersebut membahas tentang kelanjutan project Jasa Konsultan CV Methia Multi Konsultan terhadap pengembangan beberapa fasilitas tambahan, penunjang spot penangkaran maleo yang berorientasi pada peningkatan populasi dan pemberdayaan masyarakat lewat potensi-potensi wisata di lokasi itu.

Fasilitas itu seperti menara pantau maleo untuk pengawasan, akses jalan menuju penangkaran, kandang maleo, kolam, hingga beberapa bangunan semacam cottage yang akan dibangun di lokasi tersebut dengan berorientasi kepada pemberdayaan masyarakat dan upaya inovasi terhadap potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat dikembangkan.

Baca Juga :   Pelaku Usaha Pariwisata Perlu Ciptakan Keamanan Berwisata

Kepala BBTNLL, Jusman mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut akan dilaksanakan jika desain telah dikerjakan dengan mempertimbangkan hasil diskusi yang terjadi dalam seminar akhir tersebut.

“Masih ada diskusi lanjutan terkait hasil seminar yang tumpang tindih dengan keinginan masyarakat setempat, untuk kepentingan peningkatan populasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar penangkaran. Jangan menghindari konflik, sekarang kita bersama-sama masyarakat,” tuturnya saat diwawancara Sulteng Raya usai kegiatan.

“Sanctuary maleo ini bagian dari resolusi konflik dengan masyarakat untuk memberikan akses kepada masyarakat, sehingga dengan ini kita akan mengerjakan dua hal. Pertama, memberikan akses kepada masyarakat untuk  bekerja secara kolaboratif, kedua memberikan memberikan ruang untuk perlindunagan pelestarian maleo,” ujarnya menambahkan.

Baca Juga :   Plt Wali Kota Sigit: Semoga Jadi Modal Usaha

Menurutnya, sesuai dengan hasil survei CV Methia Multi Konsultan, 90 persen warga di lokasi tersebut telah memiliki kesadaran untuk melestarikan maleo. Meskipun demikian, pihak BBTNLL maupun pengelola sanctuary maleo Kadidia akan terus melakukan sosialisasi dan mengedepankan aspek kepentingan pemberdayaan masyarakat dan kualitas lingkungan yang terjaga.

“Kita bekerja, di kawasan taman nasional bukan hanya untuk satwa saja tetapi juga berdasarkan 3 P (Perlindungan, Pengawetan, Pemanfaatan lestari). Kita juga perlu memikirkan bahwa taman nasional itu berbeda dengan cagar alam yang memang konsen terhadap kelestarian keanekaragaman hayati. Tapi taman nasional ada pemberdayaan masyarakat,” tambahnya. RHT

Komentar

News Feed