oleh

Kisah Anak Yatim yang Berjuang Agar Tetap Sekolah

Bagi bocah yang masih duduk di bangku sekolah, sangat berat untuk menjalani hidup tanpa orang tua, namun bagi Rahmat, hal tersebut harus tetap ia jalani berjuang tanpa orang tua.

Oleh: Jane Lestari Parabak / SULTENG RAYA

Rahmat, bocah laki-laki yang berusia 14 tahun ini hanya hidup bersama kedua saudaranya, kakaknya Haikal berumur 19 tahun dan adiknya Zahara berumur 13 tahun. Ayahnya telah meninggal satu tahun yang lalu.

Semenjak itu, Ibunya pun pergi meninggalkan mereka ke Morowali, Ibunya telah menikah lagi dan hidup bersama keluarga barunya.

Kini, hanya kakaknya Haikal yang berjuang untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup mereka. Haikal sendiri saat ini hanya berpenghasilan kurang lebih Rp 500 ribu dari upah sebagai instalasi listrik, itupun jika dapat panggilan.

Baca Juga :   Kadisdikbud Izinkan Tenaga Pendidik Belum di Vaksin ke Sekolah.

Mereka bertiga kini tinggal bersama di rumah peninggalan Ayahnya, rumah sederhana dengan ukuran yang tidak begitu besar, terdiri dari dapur dan ruangan tamu sekaligus ada sekat sehingga sekadar menjadi kamar tempat tidur mereka, ruangan ini berdindingkan Kalsiboard, dengan lantai kasar yang di tutupi perlak plastik.

Setiap paginya, Rahmat tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah, pun begitu berangkat ke sekolah jarang membawa uang jajan, bahkan untuk membeli sebuah tas Rahmat tak mampu.

Bersyukur Ia memiliki teman-teman yang peduli padanya, mereka mau berbagi uang jajan pada Rahmat,  dan juga jika harus mengumpulkan uang kas kelas, teman-temannya inilah yang kerap membayarkannya.

Di rumah pun jika Rahmat tidak punya makanan, teman-temannya lah yang membawakan makanan untuk dia dan adiknya.

Baca Juga :   Ramlah M Siri: Bahaya Perundungan di Sekolah

Jarak rumahnya dan sekolah tidak begitu jauh namun teman-temannya sangat perduli dengannya, mereka selalu menjemput Rahmat bahkan meminjamkan motor pada Rahmat untuk mengantarkan adiknya terlebih dahulu.

Hidup tanpa orang tua mengharuskan Rahmat dan sang kakak untuk berperan sebagai orang tua bagi adiknya, meskipun sangat sulit merawat dan menjaga adik perempuan, namun hal itu tetap harus ia lakoni, Rahmat sangat menyayangi adiknya setiap harinya Dialah yang memasak bagi adiknya, sang kakak pergi bekerja dari pagi hingga malam, terkadang ia juga membantu sang kakak bekerja.

Karena tidak memiliki kendaraan, kakaknya hanya menunggu jemputan dari temannya begitupun jika ingin kembali ia mengharapkan tumpangan dari temannya.

Baca Juga :   Dua Kali Lakukan Simulasi, SDN 15 Palu Siap Laksanakan Tatap Muka

Jika tidak ada bahan makanan untuk dimasak Ia dan adiknya menunggu kakaknya pulang membawakan makanan yang di belinya sepulang kerja. Terkadang Ia dan adiknya merindukan sosok sang Ibu, Ibunya kadang menelfon hanya sekedar menanyakan kabar.

Meskipun demikian Rahmat tetap memiliki harapan dan cita-cita, ia berkeinginan untuk kuliah, sekalipun sempat juga ia berfikir untuk tidak lanjut ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya, setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama ia berkeinginan untuk lanjut di SMKN 3 Palu dan mengambil jurusan elektro agar bisa meneruskan pekerjaan kakaknya sekaligus membantu kakaknya bekerja.

Ia berharap kelak dapat menjadi orang sukses dan memiliki banyak uang untuk dapat membahagiakan kakak dan adiknya bahkan mampu menolong orang-orang yang sepertinya. ***

Komentar

News Feed