oleh

Wali Kota Minta NGO Berkoordinasi dengan BPBD

SULTENG RAYA – Wali Kota Palu, Hidayat minta organisasi non-pemerintah alias NGO dalam menyalurkan bantuan, termasuk membangun hunian sementara (Huntara) selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu.

Koordinasi dimaksud, yakni mengenai laporan perkembangan kegiatan NGO dalam pemulihan pascabencana di Kota Palu harus disampaikan kepada pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Palu melalui BPBD Kota Palu.

“Jangan NGO hanya berkoordinasi dengan pihak kecamatan atau kelurahan, namun (sebaiknya) ke pihak yang lebih berkompeten, dalam hal in pihak BPBD Kota Palu. Kalau perlu, untuk memudahkan koordinasi, NGO boleh berkantor di Balai Kota Palu. Nanti kita siapkan ruangan,” kata Hidayat saat memimpin rapat penguatan koordinasi dan melancarkan sistem penanganan bencana alam di Kota Palu di ruang bantaya, Balai Kota Palu, Selasa (27/8/2019).

 

500 KK MASIH DI TENDA

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Palu, Presly Tampubolon menyebut, memasuki bulan ke-11 pascabencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi melanda daerah itu, masih terdapat sekitar 500 kepala keluarga (KK) bertahan di tenda-tenda pengungsian.

“Sebanyak 300 KK berada di Kelurahan Balaroa. Sisanya tersebar di shelter pengungsian halaman Masjid Agung Darussalam Palu dan di Kelurahan Panau,” kata Presly.

Jika diakumulasikan dengan jumlah Huntara yang telah dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, sebenarnya sudah cukup. Pasalnya, BPBD Kota Palu mencatat, hingga kini realisasi pembangunan Huntara oleh PUPR di Kota Palu mencapai 4.396 bilik, yang terpakai mencapai 91,93 persen.  Masih terdapat sekitar 8 bilik Huntara belum dihuni. Sementara, Huntara dibangun NGO sebanyak 2.276 bilik. Sedangkan yang telah dihuni baru 1.772 bilik atau tersisa 504 bilik belum dihuni.

Sayangnya, kendala saat ini adalah sejumlah pengungsi menolak untuk jauh dari lokasi tempat semula. Sementara, lokasi pembangunan sejumlah Huntara berjauhan dari lokasi semula pengungsi.

Berbeda halnya dengan Hunian Tetap (Huntap) bagi korban terdampak parah bencana, justru jumlahnya masih sangat sedikit. Kebutuhan Huntap di Kota Palu mencapai 7.100 unit.

“Berdasarkan data saat ini, jumlah Huntap yang telah siap dibangun atas bantuan beberapa pihak baru mencapai 2.200 unit, yakni 2.000 unit akan dibangun Yayasan Budha Tzu-Chi, 75 unit akan dibangun AHA Center dan 125 unit akan dibangun oleh Asosiasi Wali Kota se-Indonesia bersama pihak NGO. Artinya, kita masih membutuhkan sekitar 5.900 unit. Bahkan, dari total rencana bantuan (Huntap) itu, yang baru selesai dibangun 200 unit oleh dibangun Yayasan Budha Tzu-Chi,” ucap Presly. HGA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed