oleh

Penyebab Tsunami Palu Terungkap

SULTENG RAYA – Peneliti dari Universitas Brunnel London menunjukkan hasil studi teranyarnya tentang penyebab tsunami setelah gempa bumi mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala pada Jumat, 28 September 2018 lalu.

Hasil studi menunjukkan bahwa tsunami setelah gempa bumi di Kota Palu dan sekitarnya, kemungkinan terjadi akibat adanya longsor bawah laut yang cukup besar. Studi ini dipublikasikan di jurnal Pure and Applied Geophysics.

Studi ini membantah hipotesa sebelumnya yang menyebut kalau penyebab tsunami akibat adanya saluran air di bawah laut Palu yang menyebabkan air naik ke atas teluk atau osilasi (gerakan) teluk.

“Analisis kami sepenuhnya mengesampingkan spekulasi itu. Kami membuktikan bahwa osilasi teluk tidak dapat membuat ombak setinggi 11 meter,” kata Dr Mohammad Heidarzadeh, Asisten Profesor Teknik Sipil Universitas Brunnel London, yang memimpin studi ini, seperti tertulis pada situs Universitas Brunnel London, Senin (17/12/2018).

Analisis permukaan laut yang baru menunjukkan bahwa tsunami di Sulawesi Tengah memiliki periode ombak yang sangat singkat. Ini sejalan dengan gelombang yang dihasilkan oleh longsoran.

Baca Juga :   Pandemi Belum Berakhir, Tetap Patuh Prokes

Tsunami akibat longsoran biasanya memiliki periode antara 3 sampai 4 menit. Sementara tsunami akibat gempa memiliki periode gelombang antara 15 hingga 60 menit.

Selain itu, studi ini juga menemukan bahwa gelombang terbesar tsunami terkonsentrasi di sebagian kecil pesisir. Ini konsisten dengan ciri-ciri tsunami akibat longsor.

Penelitian Inggris ini menegaskan bahwa penyebab gempa adalah akibat longsor bawah laut.

“Analisis kami berdasarkan data permukaan laut dari gelombang sebenarnya yang dihasilkan oleh tsunami Sulawesi, analisis pecahan dan deformasi dasar laut akibat gempa, dan simulasi komputer dari rambatan tsunami,” jelas Dr. Heidarzadeh.

Para ilmuwan kebingungan dengan teka-teki tsunami yang menimpa Palu-Donggala. Pasalnya, gempa dengan magnitude 7,4 SR dianggap kurang kuat untuk menimbulkan kerusakan separah itu. Gempa ini bahkan tak cukup besar untuk menyalakan peringatan dini tsunami milik pemerintah.

Baca Juga :   Wali Kota Setuju KBM di Sekolah Asal Prokes Diperketat

“Kejadian ini sangat membingungkan karena dua hal. Pertama, besar gempa berkekuatan sedang. Biasanya butuh gempa dengan kekuatan 8,4 atau 8,5 untuk memicu tsunami besar dengan tinggi hingga 11 meter. Kedua, mekanisme guncangan gempa bersifat luncuran horizontal (strike-slip) yang tiba-tiba. ” tutur Dr Mohammad Heidarzadeh.

“Ini membingungkan karena kami memperkirakan gelombang laut hanya 1 atau 2 meter dari gempa di Sulawesi,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, sejumlah ahli memperkirakan tsunami yang terjadi di Palu kemungkinan terjadi karena 3 hal, yakni adanya saluran bawah laut, adanya gelombang yang pecah dekat pantai sehingga menimbulkan tsunami, dan longsor bawah laut. Hal ini diungkap oleh peneliti di Fakultas Sains dan Teknik Curtin di Universitas Bentley, di Australia Barat.

LIPI pun sebelumnya menduga kalau tsunami di Palu bisa jadi dipicu oleh dua faktor, yakni pertama, bentuk geomorfologi teluk Palu hingga Donggala yang  mengamplifikasi kekuatan tsunami.

Baca Juga :   BNNP Sosialisasi Bahaya Narkoba di Palu Selatan

Bentuk geomoroflogi dasar laut di teluk ini sangat curam, melebihi 60 derajat sehingga bisa juga mengakibatkan longsor sehingga terjadi tsunami.

Kedua, karena bentuk teluk Palu terlihat seperti kanal tertutup sehingga bisa mengamplifikasi kekuatan massa air laut  yang datang.

“Para ahli setuju bentuk teluk Palu seperti kanal tertutup. Kalau dilihat di peta, teluk Palu menjorok ke dalam. Seperti saluran air selokan yang ujungya satu terbuka dan satu tertutup. Kalau digelontorkan air dari ujung yang terbuka, di ujung yang tertutupnya pasti muncrat,” kata Peneliti geofisika kelautan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto, beberapa waktu lalu.

Peneliti LIPI tak menyangka gempa tersebut bisa berdampak tsunami setinggi 3 meter lebih. Sebab gempa dengan sesar mendatar tidak efektif mengakibatkan tsunami. Tercatat gempa sesar mendatar di Wharton, Penssylvania, AS, pada tahun 2012 yang berkekuatan 8,5 SR tapi hanya menghasilkan tsunami setinggi 30 cm. ROA/CNN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed