oleh

Pengangguran Dipastikan Meningkat Pascabencana

SULTENG RAYA – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng Miyono mengakui pengangguran terbuka menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi kepala daerah usai diluluhlantakkan bencana pada 28 September 2018.

Meski belum mendapat data pasti jumlah pengangguran terbuka di tiga daerah terdampak bencana, Miyono yakin tingkat pengangguran mengalami peningkatan seiring masih banyaknya tempat-tempat usaha yang belum dan tidak beroperasi seperti warung makan, restoran dan hotel .

“Gubernur, Wali Kota dan Bupati harus berada di garda terdepan dan berperang penting dalam menormalkan kondisi perekonomian di Sulteng pascabencana. BI (Bank Indonesia) siap dan akan membantu pemerintah daerah,” ujar Miyono, dalam jumpa pers ekonomi dan keuangan regional periode November di Palu, Kamis (6/12/2018) petang.

Miyono pun berharap Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi melibatkan warga korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi dalam mengerjakan pembangunan hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) agar lapangan kerja terbuka lebih lebar untuk warga setempat.

“Pengerjaan pembangunan huntara dan huntap dengan melibatkan warga lokal diharapakan menjadi solusi mengatasi pengangguran terbuka di Kota Palu, Sigi dan Donggala pascabencana sehingga mereka tetap bisa mendapatkan pemasukan,” kata Miyono

Dalam kesempatan itu Miyono menjelaskan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan dari 3,8 persen pada Agustus 2017 menjadi 3,4 persen di bulan Agustus 2018. Penurunan itu terjadi seiring meningkatnya penyerapan tenaga kerja terutama di sektor industri pengolahan.

“Tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 14,1 persen pada Maret 2017 menjadi 14 persen di bulan Maret 2018 seiring dengan makin terkendalinya inflasi. Sementara itu rasio gini Sulteng pada Maret 2018 tercatat 0,34. Semakin membaik jika dibandingkan posisi Maret 2017 yakni 0,35,” jelas Miyono.

Di Kota Palu sebanyak 700 unit huntara tengah dikebut penyelesaian pengerjaanya sebab Pemerintah Kota Palu menargetkan sebelum masa transisi darurat ke pemulihan berakhir (25/12/2018) nanti, tidak kurang 40 ribu pengungsi sudah dapat menempati huntara yang tiap unitnya diisi 12 bilik. Tiap bilik dapat menampung empat sampai lima orang tiap keluarga.

Pembangunan huntara di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu melibatkan relawan dari berbagai lembaga dan yayasan kemanusiaan darai dalam dan luar negeri serta warga lokal.

Sebelumnya, banyak warga Kelurahan Petobo, Kota Palu, khususnya pekerja swasta, pengusaha dan petani terpaksa harus kehilangan pekerjaannya akibat bencana gempa bumi disertai likuifaksi yang memporak-porandakan kelurahan tersebut pada 28 September 2018 silam.

“Tidak sedikit harta benda hilang akibat bencana ini, banyak jadi pengangguran termasuk saya,” kata Rudi, salah seorang warga setempat yang sebelumnya bekerja sebagi penjaga gudang kakao di Petobo, saat ditemui di tenda pengungsian, Rabu (7/11/2018).

Fatmawati, warga setempat yang sebelumnya sebagai pedagang kios barang campuran mengatakan dirinya tidak lagi memiliki modal untuk membangun usahanya karena harta bendanya habis diterjang lumpur.

“Saya tidak bisa berbuat banyak, saya hanya bisa bersabar, kondisi kami tinggal di tenda pengungsian sambil menunggu hunian tetap dari pemerintah,” tururnya.

Hal yang juga dialami Ita (32). Ia terpaksa menjadi pengangguran setelah toko tempatnya bekerja di sekitaran pantai Talise rata disapu tsunami.

Tak hanya sampai disitu, janda satu anak ini juga tidak bisa lagi mencari pekerjaan semua ijazahnya hilang bersama barang-barang lainnya saat rumah kontrakannya juga diratakan tsunami.

“Nganggur mas. Mau nyari kerja juga susah, semua ijazah saya sudah tidak ada lagi,” tuturnya, Kamis (28/11/2018).

Ia pun sempat berusaha mencari ijazahnya di antara puing-puing bangunan kontrakannya, namun nihil. Ia pun pasrah.

“Tidak tahu lagi mas. Mau kerja tidak ada ijazah. Masih bingung mas mau bikin apa,” tuturnya. ANT/ROA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed